Pergerakan Penguatan Dolar, Ekspor Harus Dipacu

[caption id="attachment_2428" align="aligncenter" width="800"]Spring Meeting IMF-World Bank Group 2018 Menkeu Sri Mulyani Indrawati menjelaskan hasil pertemuan Spring Meeting IMF-World Bank Group 2018 di Washington DC. Terutama update perkembangan perekonomian AS. FOTO: KEMENKEU.GO.ID[/caption]

JAKARTA-SUREPLUS: Hasil pertemuan Spring Meeting IMF-World Bank Group 2018 di Washington DC dijelaskan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. Terutama update perkembangan perekonomian dari Amerika Serikat (AS) yang perlu diantisipasi. Hal itu dipaparkan Menkeu usai Rapat Paripurna di Gedung Nusantara II DPR, pada Kamis (26/04/2018).

Seperti dikutip dari berita Kemenkeu di situs kemenkeu.go.id, Kamis (26/04/2018), Menkeu menyebutkan bahwa Gubernur Bank Sentral Amerika menyampaikan adanya perbaikan ekonomi, baik dari sisi pekerjaan maupun inflasi. Mereka juga akan melakukan beberapa penyesuaian kebijakan.

“The Fed akan confirm untuk meningkatkan suku bunga yang telah mereka komunikasikan. Meskipun tetap akan dilakukan secara hati-hati. Ini berarti kita harus mengantisipasi bahwa lingkungan global berubah secara cukup firm, di dalam jangka waktu enam hingga 12 bulan ke depan,” jelas Menkeu Sri Mulyani.

Menkeu juga menyatakan bahwa Pemerintah akan melakukan antisipasi perubahan kebijakan tersebut terhadap mata uang dolar dan suku bunga. Namun demikian, Sri Mulyani menyakini defisit akan tetap terjaga pada level 2,19 persen sesuai UU APBN 2018.

Menkeu juga menambahkan bahwa terjadinya perubahan dalam lingkungan global dan regional harus bisa dimanfaatkan oleh ekonomi Indonesia. Terutama sektor ekspor manufaktur, karena kebijakan Amerika akan berpengaruh ke seluruh dunia.

“Kita harus mengambil manfaat. Dengan pergerakan penguatan dolar, ekspor kita harus bisa dipacu lebih bagus karena kesempatannya hari ini mumpung global growth lagi positif. Permintaan dari negara-negara pertumbuhannya lagi tinggi dan competitiveness dari ekspor terutama untuk manufaktur harus dipacu,” tukasnya.

Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan meningkat dari 3,8 persen di tahun 2017 menjadi 3,9 persen pada 2018 dan 2019. Artinya, momentum ekonomi global akan mengalami perbaikan. "Kita membahas kemungkinan resiko dengan kenaikan suku bunga di Amerika, kenaikan harga aset. Bagaimana teknologi keuangan seperti Fintech maupun crypto currency akan bisa mempengaruhi baik stabilitas maupun perubahan keuangan," kata Sri Mulyani Indrawati. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P

Posting Komentar

0 Komentar