Merespon Dunia Pendidikan Lewat Komunitas Gerlik

[caption id="attachment_1466" align="aligncenter" width="800"]Komunitas Gerlik Ikut prihatin terhadap dunia pendidikan yang dirasa masih tertinggal, komunitas Gerlik (Gerakan Peduli Anak) bergerak di dunia pendidikan sejak akhir tahun 2012. FOTO: DOK PRIBADI[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Merasa ikut prihatin terhadap dunia pendidikan yang dirasa masih tertinggal, berdirilah sebuah komunitas bernama Gerlik (Gerakan Peduli Anak) yang bergerak di dunia pendidikan pada akhir tahun 2012.

Humas eksternal Gerlik, Novisal Bahar mengatakan, komunitas ini digagas oleh sejumlah mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) saat melaksanakan tugas kampus pada tanggal 1 Desember 2012, selanjutnya diresmikan pada 2 Februari 2013.

"Mahasiswa yang menjadi penggiat saat itu Amar, Ihsan, Bagus, Siska Ayunda, Eri. Selain itu, untuk inisiatornya bernama Hafid, " ucap pria yang akrab disapa Novisal ini kepada Sureplus.id, Jumat (06/04/2018).

Ia juga menambahkan, memilih fokus ke perihal pendidikan karena melihat dunia pendidikan saat ini, dinilai masih belum maksimal. Lanjutnya, masih banyak anak-anak yang belum mendapat ilmu pendidikan dari lingkungan keluarga. "Keluarga menjadi hal sangat penting untuk memberikan pendidikan di luar jam sekolah," tuturnya.

Agenda rutin yang kerap dilakukan oleh komunitas ini ialah melaksanakan pembelajaran dan kreativitas pada waktu tertentu. Selain itu juga aktif melibatkan anak-anak untuk mengikuti berbagai macam lomba.

"Untuk agenda rutin kita yaitu setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu. Kita tidak hanya menggelar kegiatan pembelajaran tersebut indoor, namun juga kerap dilakukan outdoor atau di luar ruang,” imbuhnya.

Awal berdirinya komunitas yang berbasis di Surabaya ini hanya mempunyai anggota yang berjumlah 30 orang. Namun seiring berjalannya waktu, kini telah memiliki anggota hingga ratusan orang.

Humas Bidang Pendidikan Gerlik, Ahmad Ma'ruf mengatakan, selama berkegiatan, berbagai respon juga terlontar dari warga masyarakat sekitar yang telah merasakan adanya komunitas ini.

"Responnya sangat bagus, mereka bilang ini sangat membantu karena orang tuanya sendiri belum tentu bisa membantu belajar. Apalagi pelajaran yang tambah sulit,” katanya.

Pria yang akrab disapa Ahmad ini juga menambahkan, selama melakukan kegiatan ini tidak hanya mendapat respon yang baik. "Kita juga pernah dapat respon buruk, karena banyaknya anak-anak membuat suasananya ramai. Jadi orang tua yang lewat dikira di sini tidak belajar, hanya main,” tambahnya.

Komunitas ini mempunyai harapan tidak hanya memberikan pendidikan atau pelatihan kepada anak-anak, tetapi juga ingin melibatkan orang tuanya. Karena menurutnya pendidikan itu diawali dari keluarga. (ANDYAN/AZT)

Editor: Aziz Tri P

Posting Komentar

0 Komentar