Mendulang Rupiah dari Kreasi Tas Batok Kelapa

[caption id="attachment_2422" align="aligncenter" width="800"]tas dari bahan batok kelapa Sri Asmorowati yang kini sukses menjadi pengrajin tas dari batok kelapa. Kini, tiap bulan sebanyak 100 tas kreasinya itu terjual di pasaran lokal maupun mancanegara. FOTO: SUREPLUS/AYU CITRA SR[/caption]

KEDIRI-SUREPLUS: Sri Asmorowati, perempuan yang akrab disapa Wati ini sama sekali tak pernah menyangka mampu membuka bisnis sendiri. Berbekal kerja keras dan terus berlatih serta berinovasi, ia sukses membuat tas dari bahan batok kelapa. Padahal semula ia hanya belajar dari temannya.

Bahkan, dari usahanya tersebut Wati yang kini menjadi pengrajin tas berbahan batok kelapa ini, bisa mendulang rupiah dari berbagai daerah. Selain itu, berkat kemampuannya membaca pasar maka produknya ini juga bisa dikirimkan ke konsumennya di Rusia.

"Ya awalnya, ada teman yang membuka bisnis ini dan saya ikut membantu, sekalian latihan membuat tas. Tapi, seiring waktu berjalan, bisnis teman saya malah bangkrut," kata Sri Asmorowati, pengrajin tas batok kelapa asal Desa Tengger Kidul, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jumat (27/04/2018) kepada Sureplus.id.

Namun, dia menilai, prospek usaha di bidang tersebut justru sangat menjanjikan. Apalagi ada banyak permintaan pasar di Kediri dan sekitarnya. Oleh karena itulah, dia mengambil inisiatif, membuka usaha sendiri untuk memproduksi tas dari batok kelapa.

Alasan memilih produk ini sebagai mata pencaharian, menurut Wati disebabkan memang tidak banyak pengrajin serupa di Kediri. Kemudian, dari sisi harga bahan bakunya juga murah. "Bahan baku batok kelapa sering dianggap cuma sampah, namun harga jualnya tinggi,” katanya.

Alhasil, dari prediksi tersebut maka saat ini Sri Asmorowati mulai memetik hasil usahanya. Tiap bulan sebanyak 100 tas batok kelapa terjual di pasaran lokal maupun mancanegara. Untuk memenuhi pesanan konsumen, ia tidak bekerja sendirian tapi dibantu enam karyawannya.

Di sisi lain, untuk jaringan pemasaran maka Wati mengoptimalkan keberadaan dua gerainya. Masing-masing di Pasar Tugu Simpang Lima Gumul (SLG) dan Kampung Inggris Pare, Kabupaten Kediri.

"Khusus gerai kami di Kampung Inggris, selama ini lumayan bagus untuk membuka pasar di luar Pulau Jawa dan pasar luar negeri. Lantaran, banyak pelajar yang kursus bahasa asing di sana," katanya.

Di lain pihak, lanjut dia, pihaknya tidak memberlakukan harga jual tinggi pada hasil kreativitas tangannya ini. Baik berupa dompet maupun tas batok kelapa, semua dijual dengan harga terjangkau antara Rp 25 ribu hingga Rp 65 ribu per buah. (AYU CITRA SR/AZT)

Editor: Aziz Tri P

Posting Komentar

0 Komentar