Memadukan Kreasi Etnik pada Busana Muslim

[caption id="attachment_2411" align="aligncenter" width="800"]Rasyida Alam Rizanty Tuakiya yang memproduksi busana muslim etnik dengan brand Rasyida Alam. Inovasinya berbuah manis dengan mendapat penghargaan dari sejumlah institusi. FOTO: SUREPLUS/RAHMAD SURYADI[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Terinspirasi dari desain baju-baju milik pedagang lain, muncul ide di benak Rizanty Tuakiya untuk memproduksi busana muslim etnik dengan brand Rasyida Alam. Awalnya ia merasa produk tokonya sudah mainstream dan sama dengan toko-toko lain.

“Saya tekankan harus ada inovasi. Maka pada tahun 2004 saya mencoba berinovasi dengan desain baru, yaitu busana muslim etnik ini,” kata Rizanty Tuakiya pada Sureplus.id ketika ditemui di kawasan Kebonsari Sekolahan Surabaya, Kamis (26/04/18) siang.

Nama Rasyida Alam pun merupakan akronim dari nama dua anaknya dan nama suaminya, yaitu Ra (M Ramadan Alamsyah Putra), Syida (M Al Syidat Alamsyah Putra), dan Alam (Yudi Alamsyah). Wawasan Shanty, sapaan akrab Rizanty Tualiya, bisa dikatakan semakin luas usai mengikuti pameran di Pekan Raya Jakarta.

Menurutnya, kesan etnik itu diwujudkan dalam pemilihan bahan batik maupun tenun, serta motif lukisan. “Ini sebenanrnya hampir sama seperti batik, namun busana ini memiliki tema klasik dan etnik. Misalnya, penggambaran tokoh pewayangan,” tambahnya.

Karya pertama itu berbuah penghargaan Smesco Award 2008 dari Kementerian Koperasi dan UKM, kategori produk fashion. Berangkat dari itu, Shanty pun semakin yakin untuk mengangkat tema busana etnik dengan produksi besar.

Bahan kain batik dan tenun dia buru dari berbagai daerah di Indonesia. Ada tenun Bima, Jepara, Bali, NTT juga NTB. Sedangkan inspirasi Ide desainnya, ia lebih banyak mengadopsi dari internet. “Bahannya dari luar pulau tapi batiknya dari Jatim, Jateng dan Jabar. termasuk dari baju-baju luar negeri. Nanti tinggal disesuaikan dengan karakter busana muslim saja,” papar alumnus Unair, Surabaya ini.

Untuk menggaet pelanggan, Shanty rela membuat terobosan unik guna memberi kenyamanan dan kepercayaan konsumennya. “Saya berani menggratiskan ongkos jahit bila pengerjaan bajunya telat atau melewati deadline yang disepakati,” katanya.

Konsumen pun semakin tertarik dengan kebijakan yang diterapkan Shanty. Dampaknya jumlah pesanan semakin membludak, semakin banyak, sehingga pada 2006 ia mulai ‘terusir’ dari rumah kontrakannya.

“Pertama usaha di garasi, karena penuh lalu tambah di ruang atas, ruang tengah, sampai seluruh ruangan habis dipakai. Akhirnya saya keluar cari rumah sendiri dan Alhamdulillah sampai sekarang menjadi whorkshop saya,” ujarnya.

Kini omset penjualan Rasyida Alam rata-rata mencapai Rp 200 juta per bulan, dan mampu menghidupi puluhan karyawan. Jumlah tersebut belum termasuk lima mitra kerja yang mendukung operasional usahanya, yaitu tim bordir Sidoarjo, tim payet dan dompet di Bangil. Juga penjahit di Malang, serta tim kaos Ciput di Surabaya. Bila ditotal, ada sekitar 48 orang yang menyokong proses produksi dari luar workshop. (RAHMAD SURYADI/AZT)

Editor: Aziz Tri P

Posting Komentar

0 Komentar