Masuk Lima Negara Ekonomi Terbesar Dunia

[caption id="attachment_1627" align="aligncenter" width="800"]industri nasional Kinerja gemilang industri nasional diprediksi memberi kontribusi signifikan kiprah Indonesia di perekonomian dunia. Tampak salah satu aktivitas industri di Jatim. FOTO: SUREPLUS/AKBAR INSANI[/caption]

JAKARTA-SUREPLUS: Kinerja gemilang industri nasional diprediksi memberikan kontribusi signifikan bagi kiprah Indonesia di perekonomian dunia. Peluang tersebut juga didukung adanya masa emas, yaitu bonus demografi atau peningkatan jumlah penduduk usia produktif pada tahun 2020-2030.

"Sehingga nanti pada 100 tahun Indonesia merdeka, tahun 2045, Insya Allah Indonesia masuk lima negara ekonomi terbesar di dunia," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di Jakarta, Senin (09/04/2018).

Seperti dikutip dari Siaran Pers Kementerian Perindustrian di kemenperin.go.id, berdasarkan hasil riset PricewaterhouseCoopers (PwC), salah satu penyedia jasa auditor besar di dunia, posisi perekonomian Indonesia di peringkat ke-5 dunia diprediksi lebih cepat pada tahun 2030, dengan estimasi nilai Produk Domestk Bruto (PDB) 5,424 miliar dolar AS.

Sementara tahun 2050, peringkat ekonomi Indonesia bakal naik menjadi ke-4 dunia dengan perkiraan nilai PDB 10,502 miliar dolar AS yang dihitung melalui metode Purchasing Power Parity (PPP). Menurut riset PwC ini, Indonesia dinilai sebagai big emerging market karena merupakan negara dengan perekonomian terkuat di Asia Tenggara.

“Untuk mencapai sasaran tersebut, tentunya perlu perjuangan dan kerja keras. Sehingga, optimisme harus didorong oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia,” tegas Menperin. Maka melalui peta jalan Making Indonesia 4.0, Indonesia telah memiliki strategi dan arah yang jelas untuk meningkatkan daya saing industri manufaktur nasional memasuki era digital.

Salah satu langkah awal yang sudah dijalankan, Kemenperin turut memacu kompetensi sumber daya manusia (SDM) lewat peluncuran program pendidikan vokasi industri di beberapa wilayah di Indonesia. Dengan mengusung konsep yang link and match antara Sekolah Menengah Kejurun dengan industri, diharapkan dapat mudah mencetak tenaga kerja sesuai kebutuhan dunia industri saat ini.

“Untuk menggenjot daya saing industri, harus didukung dengan pendidikan, terutama kompetensi tenaga kerjanya. Kemudian, diperlukan kegiatan untuk menciptakan inovasi dan menerapkan teknologi terkini, di mana dua hal tersebut sangat ditopang oleh pendidikan dan dana untuk melaksanakan itu,” paparnya.

Airlangga mengungkapkan, saat memasuki momentum bonus demografi, beberapa negara mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Misalnya, Jepang yang mampu tumbuh 5,5 persen, China hingga mencapai 9,2 persen, Singapura meraih 7,3 persen, dan Thailand sekitar 4,8 persen. “Untuk itu, kita harus manfaatkan peluang emas tersebut. Kita bisa petik hasilnya pada tahun 2030,” tuturnya.

Menperin meyakini, implementasi Industri 4.0 dapat mengakselerasi target visi Indonesia emas 2045. “Saat ini, Indonesia telah masuk one trillion dollar club,” ujarnya. Perbaikan ekonomi di Tanah Air, juga terlihat selama 15 tahun terakhir. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P

Posting Komentar

0 Komentar