Kerajinan dari Serat Daun Agel Ini Tembus Pasar Amerika

[caption id="attachment_2263" align="aligncenter" width="800"]tali agel Serat daun agel dijadikan kreasi handcraft dengan desain model yang cantik. FOTO: SUREPLUS.ID/R SURYADI[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Serat daun atau tali agel dikenal sebagai daun yang kuat. Acapkali tali tersebut dapat dipergunakan untuk menghela kapal laut dengan bobot ribuan ton.

Namun di Bangkalan, Madura, daun dengan nama latin Corypha utan ini, dijadikan kreasi handycraft dengan desain model yang cantik.

Ahmad pun bercerita awal sang kakak mendirikan kerajinan ini. Ketika itu, orang madura mengalami konflik kerusuhan di Kalimantan. Dan ia bersama keluarga berusaha untuk membantu mencarikan lapangan pekerjaan.

“Daunnya itu kuat dan tahan terhadap cuaca. Meskipun di Madura itu ada kemarau dan musim penghujan hebat, daunnya itu tetap subur dan masih bisa dipakai,” ucap Ahmadi, adik dari pemilik UKM Handycraft Madura, pada Sureplus.id Minggu (22/04/2018) sore.

“Saat kerusuhan itu pecah, banyak orang madura yang pulang kampung, salah satunya di Bangkalan. Di sini mereka tidak punya pekerjaan. Maka kami coba kasih bantuan pekerjaan buat mereka,” tuturnya dengan logat Madura yang sangat kental.

Sebelumnya usaha ini hanya merajut dengan bahan dasar dari benang wol. Namun ketika itu ada turis asing datang ke Madura untuk riset pembuatan tali kapal dari serat daun agel ini.

“Ini yang punya mbak (kakak perempuan) saya. Namun sebetulnya ini usaha turun temurun dari keluarga saya, tapi dulu itu pakai benang wol. beralih ke daun agel setelah ada riset yang dilakukan turis mancanegara ke sini. Dari situ mbak saya punya inisiatif, untuk membuat kreasi dari daun tersebut. Asumsinya, kalau buat kapal saja kuat, apalagi buat yang lain," tuturnya menceritakan awal kerajinan ini dibuat.

Proses pembuatannya pun terbilang cukup mudah. Hanya saja membutuhkan tingkat ketelatenan yang ekstra. Caranya, cuci serat daun sampai bersih, lalu potong dan sesuikan dengn ukuran yang diinginkan, terus plintir-plintir dan habis itu dijadikan pola. Sejauh ini metode yang dipergunakan dengan metode manual atau handmade.

Jenis-jenis kerajian yang dihasilkan oleh UKM tersebut antara lain, tas dengan variasi ukuran yang berbeda-beda, dompet, vas bunga hingga topi, yang semuanya terbuat dari daun agel.

Kini UKM yang berdiri sejak 2013 silam ini sudah meraup pendapatan yang cukup tinggi dari hasil penjualan serat daun tersebut. Maklum, pasarnya tak hanya sebatas madura, tapi sudah ke berbagai pelosok nusantara, bahkan mancanegara.

“Pendapatan per bulan kalau normal bisa mencapai Rp 100 juta, kalau lagi ramai seperti ada pameran besar bisa mencapai Rp 500 juta per bulan. Untuk pasar Indonesia meliputi Jakarta, Bali, Batam, Sulawesi. Kami juga ekspor ke Jepang, Swiss, Malaysia, Singapura, Australia dan Amerika,” pungkasnya.(SURYA/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnaz

Posting Komentar

0 Komentar