Gulali Arbanat yang Tetap Eksis dengan Resep Kuno

[caption id="attachment_2290" align="aligncenter" width="800"] Jajanan Gulali Arbanat bisa dikatakan tak lekang oleh waktu. Di Kediri, Legiman, salah seorang penjual makanan kecil ini bisa dikatakan eksis karena mengolahnya tetap dengan resep kuno. FOTO: SUREPLUS/AYU CITRA SR[/caption]

KEDIRI-SUREPLUS: Sejak kecil, warga masyarakat di Kediri dan sekitarnya pasti mengenal Gulali Arbanat. Jajanan tempo dulu ini juga seringkali disebut rambut nenek, karena teksturnya yang menyerupai bentuk rambut perempuan berusia tua.

Meski demikian, pesona jajanan ini bisa dikatakan tak lekang oleh waktu. Apalagi, dari segi rasa, memang Gulali Arbanat disajikan dengan sensasi rasa manis di lidah. Di Kediri, Legiman, salah seorang penjual makanan kecil ini juga bisa dikatakan eksis.

Bahkan, dalam satu hari, pria berusia senja ini dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah yang lumayan dari Gulali Arbanat yang dipasarkannya.

"Biasanya, saya menjual di pinggir jalan di kawasan wisata Monumen Simpang Lima Gumul, Kediri. Di area ini, kalau hari ramai atau pas ada pameran UMIM bisa mencapai Rp 250 ribu per hari, sedangkan saat hari normal sekitar Rp 100 ribu per hari," kata Legiman, penjual Gulali Arbanat di Kabupaten Kediri kepada Sureplus.id, Selasa (24/04/2018).

Secara umum, tekstur makanan yang akrab dikenal arum manis ini seperti gumpalan rambut. Hal tersebut pas untuk menggambarkan jajanan arum manis. "Tak asing bagi kita, jajanan ini sudah muncul sejak masa lampau. Dan sampai sekarang, saya mengolahnya tetap dengan resep kuno," katanya.

Walau begitu, hingga kini, ungkap Legiman, peminat penganan rambut nenek ini juatru masih banyak. Contohnya, mulai dari kalangan anak-anak, remaja, hingga dewasa. Bahkan demi menarik perhatian konsumen, jajanan zaman dulu ini dikemas dengan bungkus unik dan inovatif. Salah satunya, dengan memanfaatkan gelas plastik atau cup. "Nah, tiap cup Gulali Arbanat ini, saya jual seharga Rp 5.000," katanya.

Kalau ramai pembeli, lanjut dia, produk arum manis tersebut dapat menghabiskan bahan baku berupa gula pasir sebanyak 5 kilogram per hari. Namun, tatkala hari normal maka bahan baku yang diolahnya memang kurang dari volume tersebut.

"Berapa pun pendapatan yang dihasilkan, saya selalu bersyukur. Yang penting masih bisa bekerja mandiri dan tetap sehat saat berjualan," katanya.

Legiman berharap, Gulali Arbanat ini dapat terus dilestarikan oleh generasi muda di Kediri dan sekitarnya, sehingga pada masa mendatang jajanan ini tetap dikenal masyarakat sepanjang masa. (AYU CITRA SR/AZT)

Editor: Aziz Tri P

Posting Komentar

0 Komentar