Bikin Jus Durian Udur-udur, Pasarkan Lewat Medsos

[caption id="attachment_1706" align="aligncenter" width="800"]minuman buah durian Udur-udur Trisnawati dari UKM Omah Duren dengan produk minuman buah durian Udur-udur yang dipasarkan lewat jaringan medsos.FOTO: SUREPLUS/R SURYADI[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Kelezatan buah durian memang tak diragukan lagi bagi yang menyukainya. Buah dengan aroma yang khas ini, selalu laris manis diburu, apalagi ketika musim panennya telah tiba.

Selain kelezatannya, durian juga kerap dijadikan ladang bisnis yang cukup menjanjikan. Bahkan kini banyak pelaku usaha kreatif yang memanfaatkan buah durian sebagai bahan dasar olahan produk aneka jajanan dan minuman.

Salah satunya, Udur-udur yang diproduksi dan dikelola oleh UKM Omah Duren. Namanya unik, sepintas nama ini seperti nama hewan laut ubur-ubur. Namun di balik nama yang terkesan nyeleneh, Udur-udur memiliki makna mendalam bagi Trisnawati, dari UKM Omah Duren.

Jenis-jenis andalan produk Udur-udur antara lain jus durian dengan kemasan botol sedang dan besar. Juga ada ice cream durian. Ketika Sureplus.id menemui Trisnawati di rumahnya di kawasan Bulak Banteng Lor Surabaya, Selasa (10/04/2018), dengan semangat ia pun memaparkan secara rinci, bagaimana dunia usaha yang ia geluti tersebut.

“Soal nama, Udur-udur itu plesetan dari ubur-ubur. Setahu saya ‘dur’-nya itu ya durian. Mengapa saya memilih nama itu, karena ubur-ubur adalah hewan yang mempunyai riwayat hidup panjang. Maka, saya ingin usaha saya itu panjang umur seperti ubur-ubur,” jawab Trisnawati sambil tersenyum.

Sejak tahun 2014, Trisna sudah menggeluti usaha durian di kawasan Manyar dan Klampis. Sebagai pedagang kaki lima (PKL). Namun menurutnya, berjualan dengan metode PKL kurang efektif dan menguras banyak tenaga serta penghasilannya pun tidak signifikan.

Lalu pada 2015, Trisna bergabung dengan Pahlawan Ekonomi (PE). Ia pun mencoba mengikuti beberapa pelatihan yang diselenggarakan oleh Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) dan PE tiap minggunya. Berkat seringnya berpartisipasi dalam pelatihan tersebut. Trisna akhirnya menemukan titik terang dalam hal bisnis yang ia kelola.

“Dari pelatihan saya mendapatkan banyak pengetahuan. Seperti manejemen keuangan, pemasaran dan pembuatan produk,” tutur wanita yang gemar hobi traveling ini.

Trisna pun akhirnya memutuskan untuk tidak lagi jadi PKL durian. Namun ia berinovasi melakukan gebrakan baru dalam hal pemasaran usaha yang ia kelola yakni melalui jaringan media sosial Instagram dan Facebook. “Lumayan pendapatannya, kalau lagi normal bisa mencapa Rp 10 juta per bulan. Terus kalau lagi ramai ya bisa-bisa mencapai Rp 20 juta per bulan,” ucapnya. (R SURYADI/AZT)

Editor: Aziz Tri P

Posting Komentar

0 Komentar