Bertahan 23 Tahun Tekuni Kerajinan Wayang Kulit

[caption id="attachment_1675" align="aligncenter" width="800"]Festival Dalang Bocah se-Jawa Timur 2018 Poniran, pria asli Yogyakarta yang menekuni kerajinan pembuatan wayang kulit sejak 1995 lalu. Awalnya, ia hanya meneruskan usaha orangtuanya. FOTO: SUREPLUS/ANDYAN[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Siang itu begitu terik, namun tak menyurutkan niatnya untuk tetap melayani pembeli wayang kulit saat pagelaran Festival Dalang Bocah se-Jawa Timur 2018 di Halaman Gedung Cak Durasim, Selasa (10/04/2018).

Pedagang wayang kulit tersebut, Poniran mengatakan, dirinya sudah menjadi perajin wayang kulit sejak tahun 1995, yang meneruskan usaha orang tuanya Sardi Utomo dan Rugiem. Ia menjadi penerus kerajinan wayang kulit yang ditempuhnya lantaran ingin menjaga tradisi.

“Ini usaha turun temurun dari orang tua saya saat itu. Ya, demi menjaga kelestarian wayang kuli, saya wajib meneruskannya,” kata Poniran kepada Sureplus.id, Selasa (10/04/2018).

Menurut Poniran, total sudah ada ratusan wayang kulit yang dibikinnya selama 23 tahun. Ia juga menambahkan bahwa pemesanan ayang kulit banyak yang berasal dari para dalang yang hendak tampil.

Namun selain itu, juga ada beberapa sanggar pedalangan yang kerap memakai jasanya untuk membuat wayang kulit, serta tidak menutup kemungkinan masyarakat umum yang hendak membeli untuk koleksi pribadi.

Pembuatan wayang kulit ini ia produksi dibantu oleh empat orang terdekatnya. Lanjutnya, pembuatan wayang kulit ini sendiri dilakukan jika ada pemesanan. Tak hanya itu, wayang kulit ini ia buat asli dari kulit sapi. Untuk produksi wayang kulit ini ia hanya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima hari.

“Kalau saya buat sendiri ya tidak sanggup, soalnya kalau udah ada pesanan itu banyak,” imbuhnya.

Untuk harga wayang kulit yang dipatok, menurut pria asli Yogyakarta ini dibuat bevariasi tergantung motif kulit dan kasar halus pembuatannya. Untuk ukuran wayang kulit juga sangat bervariasi, mulai 30 cm, 40 cm hingga 85 cm.

Wayang kulit Poniran ini sudah dikenal di beberapa daerah, sehingga omset yang didapat pun mencapai Rp 2,5 juta per bulan. Namun jika memasuki musim hujan ia mengalami penurunan omset. “Semisal November kemarin yang musim hujan, itu omset saya turun,” paparnya. (ANDYAN/AZT)

Editor: Aziz Tri P

Posting Komentar

0 Komentar