Arcandra: Kelola Migas, Butuh Teknologi Terbaru

[caption id="attachment_2364" align="aligncenter" width="800"]kemudahan berinvestasi Wakil Menteri (Wamen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar pada Forum Fasilitas Produksi Migas, di Yogyakarta, Rabu (25/04/2018). FOTO: ESDM.GO.ID[/caption]

YOGYAKARTA-SUREPLUS: Selain dibutuhkan kemudahan berinvestasi bagi investor melalui pemangkasan perijinan, diperlukan juga hadirnya teknologi terbaru untuk bisa mengembangkan minyak dan gas bumi (Migas) di Indonesia secara optimal.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri (Wamen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar pada Forum Fasilitas Produksi Migas, di Yogyakarta, Rabu (25/04/2018), seperti dikutip dari Tim Komunikasi ESDM di situs esdm.go.id, Kamis (26/04/2018).

Arcandra menilai, jika Indonesia masih terus menggunakan teknologi yang ada saat ini, maka dipastikan pengelolaan Migas di Indonesia akan mengalami kemunduran. "Untuk masalah teknologi, dukungan dari para ahli minyak dan gas bumi sangat kita harapkan. Kalau kita masih berkutat dengan teknologi eksisting, percaya saya, kita akan ketinggalan," kata Arcandra.

Ia mengungkapkan, negara-negara penghasil migas dunia sudah berbicara mengenai berbagai teknologi canggih yang digunakan. Sementara, negara kita masih bicara hal-hal yang jauh di bawah itu. "Berikan ruang inovasi yang lebih luas sehingga muncul teknologi-teknologi yang punya 'local wisdom'," lanjut Arcandra.

Menurut Arcandra, inovasi teknologi akan membantu pemerintah menjawab tantangan pengembangan Migas di Indonesia. "Indonesia harus terbuka pada teknologi-teknologi baru di bidang pengeboran Migas. Ini untuk mendapatkan temuan cadangan baru agar keberlangsungan produksi minyak bumi di Indonesia tetap terjaga," paparnya.

Sebelumnya Arcandra mengungkapkan, saat ini Indonesia memiliki cadangan terbukti minyak bumi sekitar 3,3 miliar barel. Dengan asumsi produksi konstan 800.000 barel per hari tanpa adanya temuan cadangan baru, maka dalam 11 hingga 12 tahun ke depan Indonesia tidak mampu memproduksi minyak bumi lagi.

Demikian halnya dengan pengelolaan gas. Indonesia masih memiliki cadangan 25 tahun hingga 50 tahun ke depan, jika diasumsikan tidak ada penemuan cadangan gas baru. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P

Posting Komentar

0 Komentar