AIP Rural Tingkatkan Sektor Pertanian Jatim

[caption id="attachment_2376" align="aligncenter" width="800"]AIP Rural Head of Portfolio 2- PRISMA (AIP-RURAL) Reslian Pardede berbincang dengan Sales manager PT DuPont Indonesia Arief Nur Judhanto dan Business Consultant Portfolio 1 - PRISMA (AIP-RURAL) Felita Handoko di sela-sela pemaparan program Pemerintah Australia dan bagian dari Australia-Indonesia Partnership for Rural Economic Development (AIP-Rural) di Surabaya, Rabu (25/4/2018). FOTO: SUREPLUS/AKBAR INSANI[/caption]

SURABAYA-SUREPLUS: Setelah melalang buana di Indonesia bagian timur, kini Australia-Indonesia Partnership for Rural Economic Development (AIP Rural) gelar media gathering, guna mensosialisasikan program mereka di sektor pertanian di Jawa Timur,

AIP Rural merupakan bentuk kerja sama progam Pemerintah Indonesia dan Australia yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani kecil, khususnya di Indonesia bagian timur.

“Progam ini berfokus pada sektor pertanian yang mempunyai potensi pertumbuhan pertanian yang kuat, guna memfasilitasi dan memperbaiki sistem pasar supaya komuditas pertanian ini produktivitasnya meningkat dan petani bisa menjual hasil tanamannya,” tutur Head Communications AIP Rural Muhammad Karim Wirasaputra, Rabu (27/04/2018) Surabaya.

Ada lima program yang dijalankan AIP Rural dalam mendorong peningkatan ekonomi petani, antara lain, Prisma, Panah Merah, Safira, Arisa dan Tirta.

Reslian Pardede selaku Head Of Portfolio I Prisma, menuturkan bahwa keempat progam tersebut menawarkan berbagai macam solusi yang terbaik, untuk memberikan kesempatan bagi investor maupun kepada petani.

“Progam kami tentunya mempunyai win-win solution, seperti prisma meningkatkan produktivitas akses pasar bagi petani, Safira memperluas akses bagi petani, Tirta meningkatkan akses irigasi serta Arisa untuk pengembangan teknologi dengan badan penelitiannya,” ujarnya.

Namun yang menjadi fokus pembahasan pada acara kali ini adalah mengenai intervensi sektor jagung dan bawang merah di Jawa Timur.

Menurut Ahmad Turmudzi Principal Business Consultant Portfolio III Prisma. Secara keseluruhan dalam rentan waktu 10 tahun terakhir, permintaan produksi jagung diperkirakan meningkat hingga 45 persen pada 2020 mendatang. Permintaan ini dipicu dari meningkatnya produk-produk olahan ternak yang semakin signifikan.

“Indonesia merupakan negara penghasil jagung terbesar di Asia Tenggara, namun rata-rata tingkat produktivitasnya masih rendah (5,31 Ton/Ha). Dan hingga tahun 2015, Indonesia itu importir jagung dengan nilai rata-rata 3 juta ton per tahun.” Ujarnya.

Sebagian besar, pemicu dari rendahnya produktivitas jagung disebabkan karena berbagai macam metode penanaman yang tidak tepat.

“Contohnya yang dihadapi petani Madura, kualitas benih yang masih rendah, tidak menerapkan GAP, serta rendahnya kualitas jagung, dikarenakan keterbatasan GHP (Good Handling Practice/ Praktek Paska Panen yang Baik,” tandasnya.

Dengan berbagai polemik tersebut, pihaknya berusaha untuk menanggulangi dengan menginterversi penerapan dua area yakni, mempromosikan benih jagung hibrida serta GAP. Selain itu menjalin dengan beberapa mitra perusahaan pemerintah dan swasta untuk menunjang keberhasilan progam yang ia kerjakan.

Sedangkan dari sektor bawang merah, kendalanya terkait biaya penanaman yang terlampau tinggi, menjadi penyebab minimnya tingkat produktivitas tanaman petani bawang merah. Dan penggunaan pestisida yang kurang efektif karena rentan terserang hama dan penyakit

“Petani di Jatim itu dilanda dilematis. Karena kalau tanam di musim kemarau banyak yang diserang ulat, namun di saat musim penghujan terkena jamur,” kata Felita Handoko Business Consultant Portfolio I Prisma.

Tak hanya itu, petani Indonesia masih terbiasa menanam umbi bawang merah ketimbang biji. Padahal, bila dibandingkan umbi, biji bawang merah jauh lebih aman, dan bisa menghasilkan bawah merah lebih banyak ketimbang umbi. "Bawaan umbi sendiri sudah ada penyakitnya, jadi biasanya penggunaan pestisidanya jadi lebih tinggi. Berbeda dengan biji yang tidak ada penyakitnya," papar Felita.

Maka tak dapat dipungkiri, produktivitas petani bawang merah di Jawa Timur lebih rendah dibandingkan provinsi penghasil bawang merah lainnya di Indonesia. Meskipun Jawa Timur ialah provinsi penghasil bawang merah terbesar kedua setelah Jawa Tengah dan Yogyakarta.(R SURYADI/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnaz

Posting Komentar

0 Komentar