RESENSI BUKU

Licinnya Paman Sam Bermain Minyak Teluk

Judul buku: Crude Strategy
Editor : Charles L Glaser dan Rosemary A Kelanic
Penerbit :Georgetown University Press, AS
Tebal : ix + 300 halaman
Cetakan : Pertama, 2016

Oleh Rosdiansyah

SEJAK lama kawasan Timur Tengah, khususnya Teluk Persia, telah menjadi perhatian utama AS. Khususnya menyangkut kandungan minyak dan gas yang sudah membuat para elit di kawasan tersebut kaya-raya. Berbagai pengamat masalah Timur-Tengah sering memandang kebijakan Timur Tengah Amerika telah menjadi sebuah anakronisme. Ketidakcocokan dalam merespon perkembangan yang terjadi. Bahkan, lebih jauh, ada yang menyatakan kebijakan negeri Paman Sam itu masih berputar-putar pada penataan usai Perang Dingin, dan Uni Sovyet yang bubar. Meski kenyataan kini menunjukkan, Rusia sebagai pewaris Uni Sovyet, mulai berkeliat bangun dari mimpi buruknya porak-poranda dihempas angin perubahan. Dalam sejarah hegemoni dunia pasca Perang Dunia kedua, pengaruh Soviet di Timur Tengah dimulai pada tahun 1947. Sovyet berupaya membangun jejaring dengan kekuatan sosialis Arab, meski upaya ini sering tertatih-tatih. Sebagai respon, kawasan berbahasa Arab ini menjadi salah satu prioritas tertinggi kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah. Paman Sam perlu memastikan akses Barat untuk minyak Teluk Persia, menjamin keamanan Israel, teman Amerika terkemuka di wilayah itu, serta menjaga hubungan kerja baik dengan negara-negara Arab moderat.

Runtuhnya ancaman Soviet menyinarkan cahaya baru pada kepentingan Amerika di Timur Tengah. AS merasa tidak ada lagi pesaing utama untuk akses ke minyak Teluk Persia. Dinamikan kawasan selama nyaris lebih dari tiga dekade sejak usai perang dingin kurang dihiraukan AS, kecuali para penasehat kebijakan luar-negeri AS hanya fokus pada upaya-upaya masuk kedalam struktur pemerintahan di sana, lalu mempengaruhinya. Itu menjadi kepentingan strategis AS yang utama di wilayah tersebut. Karena tidak ada kekuatan militer lain di masa mendatang di kawasan tersebut yang dapat menolak akses Barat ke minyak Teluk Persia, maka segera saja timbul pertanyaan apakah berbagai upaya AS untuk mendominasi permainan di kawasan Timur-Tengah itu murni karena faktor minyak ataukah memang AS sesungguhnya tidak pernah menjadikan siapapun di kawasan itu sebagai sekutu strategis. Belum pernah ada jawaban tegas lugas dari internal Gedung Putih. Hanya saja, minyak hasil eksplorasi di kawasan ini telah menyumbang sekitar dua-pertiga dari minyak dunia. Dan Washington semakin dapat akses ke minyak Teluk melalui sohib karibnya, para elit negara Arab moderat.

Moskow menghendaki AS tidak terlalu ngotot untuk melakukan intervensi militer, namun lebih membiarkan dinamika Teluk yang lebih mendorong kelancaran ekspor minyak. Walau muncul berbagai ancaman yang bisa menghambat ekspor tersebut. Dan ancaman ini dalam jangka pendek mengganggu pasokan minyak akibat konflik antarnegara, seperti yang terjadi selama 1980-1988 saat perang Iran-Irak berkecamuk. Juga akibat gangguan dari revolusi di wilayah itu, seperti yang terjadi di Iran pada 1978-1979. Dalam kedua kasus, AS dan importir minyak Barat lainnya tetap punya akses ke minyak Teluk Persia tidak melalui aksi militer, tetapi melalui pasar minyak dunia. Dalam situasi itu terjadi keseimbangan pasokan minyak dan permintaan pasar melalui harga minyak yang lebih tinggi. Dalam jangka panjang, cara utama pertahanan Amerika terhadap kelangkaan minyak adalah pasar bebas, bukan angkatan bersenjata. Cara ini sudah mahfum diketahui para importir minyak, serta sudah pula dijalankan selama ini.

Buku ini berisi sembilan esai panjang dari beragam pakar bidang strategi politik, keamanan nasional, jurnalisme, hubungan internasional di AS. Esai-esai ini terpisah dalam tiga bagian yang saling bertautan satu sama lain dengan fokus utama pada keterlibatan AS pada persoalan minyak Teluk. Alasan utama editor buku ini adalah dikarenakan wacana keterlibatan AS dalam dinamika Teluk dan pusaran konflik di sana tidak bisa diabaikan, meski motif sesungguhnya AS juga masih sering dipertanyakan. Strategi penguasaan kawasan Teluk tentu bukan sekadar disebabkan deposit minyak yang luar biasa, melainkan bisa juga dikarenakan faktor-faktor lain, seperti perdagangan dan bisnis lainnya. Namun, yang lebih menarik perhatian banyak pakar adalah pada strategi AS yang sering dihadapkan pada dua pilihan, aksi militer atau langkah non-militer. Ketika aksi militer yang menjadi pilihan selama nyaris lebih dari satu dekade sejak peristiwa 9/11, maka segera tampak dampak ekonomi terhadap AS sendiri.

Sementara itu, Amerika tidak harus pergi berperang hanya demi menurunkan harga minyak. Ada pertimbangan lain. Yaitu, jika perang terbukti efektif mencegah minyak Teluk tak jatuh di bawah kendali kekuatan hegemonik yang jelas-jelas memusuhi AS, seperti Iran atau organisasi-organisasi teroris. Jika salah satu dari keduanya yang radikal ini memperoleh kontrol atas minyak Teluk, maka kekayaan minyak besar bisa memicu penumpukan militer besar-besaran Iran atau organisasi teror yang bisa mencakup senjata nuklir dan rudal jarak jauh. Tentu saja, situasi itu menjadikan Paman Sam tidak bisa mengizinkan salah satu dari keduanya, yang didorong oleh ideologi anti-Barat, untuk mendapatkan hegemoni atas minyak Teluk; yang bisa menciptakan ancaman nuklir bagi Amerika dan sekutu-sekutunya. Alasan-alasan ini kerap beredar di berbagai jurnal kajian maupun secara implisit dari pernyataan-pernyataan pejabat luar negeri AS atau sekutu AS.

Di sisi lain, hilangnya ancaman Soviet juga mengubah sifat ancaman utama terhadap keamanan Israel. Lawan utama militer Israel, Iran dan Suriah, telah dilemahkan oleh penurunan perlindungan Moskow selama satu dekade namun pelan-pelan meningkat belakangan ini. Rusia di bawah kendali Putin telah menunjukkan ketertarikan kembali terhadap kawasan Teluk. Minat yang nyaris terkubur lama akibat beralihnya perhatian mereka terhadap stabilitas politik dalam negeri, kini naik kembali ke kawasan Teluk. Di tengah gejolak kawasan ini, ternyata pengaruh signifikan juga dirasakan para oligarkis Rusia, yang sebagian besarnya juga menginduk pada Putin. Setelah musim semi Arab (Arab Spring), lalu kehadiran organisasi teroris semacam ISIS, telah menjadi daya pikat untuk Rusia kembali pelan-pelan menawarkan jasa mereka ke sejumlah negara Teluk, yang paling responsif, tentu saja Suriah. Meski di sisi lain, Rusia tetap tak mau terbuka pada motif sesungguhnya keterlibatan mereka di Teluk.

Buku ini berupaya menguak kiprah AS di kawasan Teluk yang sudah lebih dari 30 tahun. Semula kiprah ini bertumpu pada komitmen menjaga aliran minyak dari Teluk Persia ke berbagai penyalur minyak dunia. Namun, belakangan komitmen ini bisa berkembang ketika instabilitas regional membayangi sejumlah negara Teluk. Kehadiran Rusia kian menambah ruwet situasi, sebab sudah tersingkap kalau negeri dingin di utara itu tak juga surut niat dominatifnya terhadap kawasan Teluk. Buku ini kian menegaskan, Paman Sam kini tengah menghadapi kompleksitas yang jauh lebih banyak dibanding masa-masa sebelumnya.***

(Rosdiansyah, peresensi adalah peneliti pada The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi/JPIP, Surabaya)