Penyair, Ekonomi, dan Kreatifitas

seniman, penyair
Ilustrasi. FOTO: ISLAMI.CO

Oleh Zulkifli Songyanan*

Sebagai seniman, penyair kerap identik dengan sosok yang tidak punya uang. Satu sisi, pernyataan itu benar mengingat ketimbang musikus atau pelukis—menyebut dua profesi paling populer di ranah kesenian—penyair memang terkesan lebih sulit mendapat uang. Betapa tidak, lazim diketahui bahwa media yang memuat puisi jumlahnya terbatas, honornya juga tidak seberapa. Kecuali beberapa nama—sebut saja Aan Mansyur atau Sapardi Djoko Damono—upaya menerbitkan buku puisi juga tampak lebih dekat dengan rugi ketimbang untung.

Namun demikian, persoalan kurang uang (untuk menyebutnya tidak punya uang sama sekali) pada dasarnya bukan privilege penyair semata. Kawan saya yang pengusaha beberapa kali menghubungi saya untuk sekadar pinjam uang. Tentu saya tidak bisa banyak membantu. Hal demikian juga terjadi manakala saya, dalam keadaan terdesak, mencoba meminjam uang kepada kawan saya yang pegawai bank, pegawai BUMD maupun BUMN, bahkan kepada yang berstatus PNS sekalipun. Alih-alih membantu atau menolak memberi pinjaman lantaran tidak percaya, mereka malah mengeluh lantaran punya persoalan yang sama. Pendek kata, sebagaimana kelaparan, kekurangan uang juga bisa disebut sebagai musuh bersama umat manusia.

Hanya sayangnya, bukan semata dicap golongan kere, lebih kejam dari itu adalah anggapan bahwa penyair merupakan golongan manusia yang tidak punya daya saing di bidang ekonomi. Anggapan semacam itu tentu saja tidak sepenuhnya benar meski sebagai pembenaran mudah dicari rujukannya. Di dalam negeri kita mengenal Chairil Anwar, sedang di luar negeri ada nama-nama seperti Lord Byron dan Arthur Rimbaud. Ketiganya dikenal sebagai penyair besar yang bohemian.

Dalam pandangan normatif, hidup mereka suram, tingkah lakunya tidak karuan. Karenanya, di luar kemampuannya menulis, dalam masa produktifnya, baik Chairil, Byron, maupun Rimbaud seolah ditakdirkan tidak punya keahlian lain untuk mendapatkan uang—kecuali dengan meminjam. Chairil keluar dari Balai Pustaka karena rutinitas dianggapnya menghambat kegiatannya menulis puisi; setelah lelah bertualang, Byron menikahi perempuan yang bersedia melunasi utang-utangnya; sedang Rimbaud memutuskan menjadi penjual budak di Afrika setelah berhenti menulis puisi).

Sadar bahwa memutuskan hidup di jalur kepenyairan punya dampak serius pada persoalan ekonomi, tak sedikit para penyair yang imannya goyah: sebagian berhenti menulis puisi untuk kemudian memfokuskan diri mencari penghidupan; sebagian yang lain mencoba menjalani laku yang mendua: tetap anteng menulis puisi sambil bekerja (baik formal maupun serabutan) menambah penghasilan.

Saya mengenal sejumlah penyair dari golongan kedua dan lebih banyak dari golongan pertama. Namun dalam tulisan ini saya ingin menyebut yang penting-penting saja.

Pasangan Indrian Koto-Mutia Sukma masih produktif menulis puisi seiring aktivitas mereka mengelola Jual Buku Sastra (JBS). JBS merupakan salah satu brand kuat di industri buku indie saat ini. Demikian halnya Raudal Tanjung Banua dan Irwan Bajang. Raudal masih sering mempublikasikan karyanya, baik puisi, cerpen, maupun catatan perjalanan, di sela kesibukannya mengurus penerbit Akar Indonesia; sedang Bajang masih aktif menulis puisi seiring kegiatannya mengembangkan Indie Book Corner (IBC) dan Benteng Nganga—sebuah usaha di bidang kuliner yang menjadikan Ayam Taliwang khas Lombok sebagai sajian utamanya.

Sementara itu, penulis muda asal Cianjur Faisal Syahreza menjajal kemampuannya di bidang tulis-menulis dengan melebarkan sayap menggarap penulisan novel populer, skenario film, hingga naskah drama. Ketimbang puisi, hal lain yang ditulis Faisal—ditilik dari aspek ekonomi—jelas lebih masuk akal.

Lain Koto dan Sukma, Raudal dan Bajang, hingga Faisal Syahreza, lain pula Sarabunis Mubarok. Berbeda dengan koleganya yang mencari penghidupan “di sekitar puisi”, apa yang dilakukan penulis asal Tasikmalaya ini sungguh jauh dari puisi maupun kesusastraan.

Mengandalakan kemampuannya di bidang grafis, Sarabunis merintis bisnis cutting stiker dan penghasilannya sekarang bisa 3-4 kali lipat dari besaran gaji yang ia dapat sewaktu punya pekerjaan tetap. Sebelum menekuni bisnis cutting stiker, Sarabunis bekerja di salah satu perusahaan media di kota kelahirannya, dan posisinya kala itu terbilang mapan. Saat masih menyandang status karyawan, Sarabunis bahkan terbilang produktif menulis cerbung, esai, juga puisi (semuanya ditulis dalam bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia)—di samping punya kesibukan lain jualan mug.

Kelima nama yang saya sebut di atas, meski belum tentu representatif, paling tidak telah mematahkan argumen memilukan yang menyatakan bahwa penyair tidak punya daya saing di bidang ekonomi. Dengan cara-caranya sendiri, kelima nama tersebut sudah membuktikan bahwa kreatifitas dan upaya menyambung hidup bisa dilakoni seiring sejalan tanpa mengurangi kebahagiaan.

Manfaat yang Terus Mengalir

Dalam pengantar buku puisi Acep Zamzam Noor “Jalan Menuju Rumahmu”, penyair sepuh Saini K.M menceritakan pengalamannya bertemu dengan Muhammad Halim: seorang insinyur lulusan ITB yang di masa mudanya dulu (bersama Sanento Yuliman yang kemudian menjadi kritikus seni rupa serta Yuswadi Salya seorang arsitek yang punya wawasan luas di bidang kebudayaan) terbilang sebagai salah seorang penyair potensial.

Kepada Saini, Halim bercerita bahwa dirinya tidak menulis puisi lagi sejak bekerja di bidang yang ia kuasai. Saat itu Halim tengah menggarap proyek pembuatan tanggul di Surabaya.

“Mengapa dipersoalkan? Membuat tanggul yang bermanfaat bagi masyarakat sama nilainya dengan membuat puisi yang bermutu,” kata Saini.

Halim tidak menjelaskan mengapa dirinya tidak menulis puisi lagi. Hanya, di akhir percakapannya, pakar civil-basah itu menyatakan bahwa dirinya lebih dapat menikmati hidup ketimbang teman-temannya sesama insinyur. “Saya yakin hal ini merupakan hikmah dari puisi karena saya sempat menulis beberapa karya sendiri dan menikmati karya orang lain,” terang Halim.

Bagi Saini, pernyataan Halim jadi menarik lantaran mengandung sesuatu: Halim dapat lebih menikmati hidup karena lewat kegiatan apresiatif dan kegiatan kreatif di bidang puisi ia sempat merenungi kehidupan. “Artinya, ia lebih sadar akan kenyataan yang dihadapi dan kemungkinan yang dapat dicapainya. Ia dapat melihat Das Sein (Yang Ada) dan Das Sollen (Yang Seharusnya) dari kehidupan ini hingga gairahnya untuk berjuang lebih besar daripada mencari nafkah,” papar Saini.

Sementara itu, dalam sebuah percakapan di kawasan Dago, aktivis Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) Iman Abda menyebut pengalamannya menulis puisi berperan dalam menajamkan kemampuannya berimajinasi. Sebagai informasi, pada 2017 lalu Iman diundang ke Swiss untuk menghadiri The World Summit on the Information Society (WSIS Prize) yang digelar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam ajang itu, karya Iman, Radio Backpack Station, masuk sebagai salah satu champion di bidang Penerapan Teknologi Informasi untuk Lingkungan.

Radio Backpack Station merupakan versi sederhana dari pemancar radio yang umumnya seukuran mobil, dan dikemas jadi seukuran tas punggung saja. Kesederhanaan Radio Backpack Station memungkinkan pemancar radio ini bisa dibawa ke mana-mana, bahkan ke medan bencana yang lazimnya sulit dimasuki pemancar radio berukuran jumbo.

“Kemunculan Radio Backpack Station diilhami oleh bencana tsunami Pangandaran pada 2006 lalu serta letusan Gunung Merapi pada 2010. Kedua bencana itu menyadarkan saya bahwa teknologi (pemancar radio) yang selama ini tersedia tidak mudah dibawa ke tengah-tengah medan bencana. Peralatan yang dibutuhkan banyak. Sementara untuk keperluan penyaluran bantuan, para korban dan relawan sama-sama butuh informasi yang cepat dan akurat. Tidak dipungkiri bahwa banyaknya korban dalam bencana tsunami Pangandaran disebabkan oleh lambannya informasi kala itu,” papar Iman.

Teknologi yang dibuat Iman memungkinkan informasi di wilayah bencana lebih mudah diaskes. Betapa tidak, pemancar radio yang biasanya diangkut satu mobil penuh itu kini cukup dimasukkan ke dalam ransel sehingga informasi bisa segera disebarluaskan dari tengah bencana. Iman memang tidak sendirian merancang produknya. Ia dibantu seorang desainer tas ransel dari Belanda serta seorang ahli IT dari Jepang. “Tapi secara umum idenya datang dari saya,” katanya.

Pada awal 2000-an, Iman Abda tercatat sebagai salah seorang penyair muda Jawa Barat. Puisi-puisinya kerap dimuat di sejumlah media yang terbit di Bandung dan Jakarta. Iman memutuskan pensiun dini dari menulis puisi untuk memfokuskan diri di bidang komunikasi. Kegiatannya di JRKI, lebih-lebih setelah menciptakan Radio Backpack Station, membuat Iman kerap bepergian ke luar negeri.

Selintas, memang tidak tampak adanya hubungan antara produk temuan Iman dengan puisi. Namun sebagaimana pengakuannya di atas, pengalaman Iman menulis puisi sedikit-banyak membantunya menajamakan imajinasi. Dan kita tahu, seperti halnya uang, imajinasi juga merupakan hal penting dalam hidup. Inilah salah satu perkara yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Imajinasi-lah yang membuat manusia bisa bertahan membangun peradaban hingga saat ini. Sedikit-banyak, puisi punya peran dalam hal demikian.

Zulkifli Songyanan, menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya Kartu Pos dari Banda Neira (Gambang Buku Budaya, 2017). Sambil bekerja di salah satu perusahaan media di Jakarta, sosok kelahiran Tasikmalaya 02 Juni 1990 ini punya usaha sampingan jualan madu dan kaos-costum.