RESENSI BUKU

Big Data, Habis Peluang Terbitlah Resiko

Judul Buku: Streaming, Sharing, Stealing
Penulis : Michael D Smith dan Rahul Telang
Penerbit : The MIT Press, USA
Tebal : xi + 215 halaman
Cetakan : Pertama, 2016

Oleh Rosdiansyah

INDUSTRI hiburan benar-benar terdampak perkembangan teknologi yang tak diperkirakan sebelumnya. Awalnya, semua berjalan sebagaimana alur bisnis. Terutama pada bisnis hiburan melalui televisi berjejaring. Para eksekutif bisnis ini menyepakati sebuah ‘pilot project’, lalu memesan beberapa episode untuk uji coba ke publik, lantas menyiarkannya. Mekanisme ini berlangsung selama bertahun-tahun. Sampai kemudian datanglah Netflix mengubah segalanya. Netflix menggunakan mekanisme preferensi langganan guna mengetahui tingkat ketertarikan publik pada sebuah produk hiburan. Alur bisnis hiburan di dunia pertelevisian pun spontan terganggu. Namun, para pelaku bisnis ini tak mungkin menggugat apa yang dilakukan Netflix, sebab Netflix sama sekali tak melanggar aturan perdagangan atau rahasia dagang. Keunggulan inovatif Netflix barangkali bisa disamakan dengan bisnis jasa daring yang kini ramai dibicarakan lantaran dianggap mengganggu bisnis jasa antar tradisional.

Kisah ini memperlihatkan pada kita peran data yang sekarang telah dimainkan dalam pengambilan keputusan industri hiburan – Netflix bahkan mampu menghasilkan beberapa trailer yang ditargetkan pada berbagai kategori khalayak. Kenyataan ini menunjukkan tengah terjadi dari bisnis film, TV dan musik, yang secara tradisional merupakan entitas terbesar dan paling kuat, kepada entitas seperti Netflix dan Amazon. Kedua perusahaan ini mendistribusikan konten. Inilah era Big Data. Dan buku yang ditulis oleh dua gurubesar Universitas Carnegie Mellon, AS, bagai membuka kotak pandora dari misteri Big Data, bahwa selama ini kemisteriusannya terletak pada kekuatannya mengubah permainan bisnis. Bukan saja para eksekutif industri hiburan yang dibuat geleng-geleng kepala, namun masyarakat pun bisa dibuat takjub. Ibarat promo produk, semula publik bisa menonton gratis, namun hanya sesaat. Untuk melanjutkan, tentu tetap harus bayar. Keuntungan lainnya, perusahaan semacam Netflix dan Amazon bisa mengantongi informasi gratis pilihan selera publik.

Kasus film drama politik seri ‘House of Cards’ menjadi pembuka bahasan duo penulis buku. Film ini berisi 65 episode yang terbagi dalam lima musim (season). Tiap musim terdiri dari 13 episode, dan pertama kali tayang hanya di Netflix pada 1 Februari 2013, dan seri ke-13 dari musim kelima telah tayang pada 30 Mei 2017. Artinya, ketika film ini berhasil meraup jumlah penonton lumayan banyak, buku ini sedang ditulis, dan diterbitkan pada tahun 2016 tatkala jumlah penonton telah tercatat melampaui prakiraan semula. Jutaan pemirsa telah menyaksikan film ini melalui jalur daring situs Netflix. Sebuah prestasi penyajian film seri drama politik yang menyalip cara lama penayangan lewat televisi berjejaring. Pihak Netflix berani menggelontorkan duit jutaan dolar untuk keseluruhan episode, tanpa harus menayangkan terlebih dulu episode uji-coba. Keunggulan lain, pemirsa tak perlu lelah menunggu jeda iklan dalam tiap episode, sehingga kian hari kian bertambah jumlah pemirsa. Ditambah lagi, nama besar aktor Kevin Spacey sebagai bintang utama film ini telah membuat Netflix sejak awal meyakini, bahwa mini seri ini bakal meraih sukses. Perkembangan teknologi digital melalui saluran situs tontonan telah mengubah paradigma lama menyajikan tontonan untuk pemirsa. Ketika film ini semakin menjadi buah bibir masyarakat, barulah insan dunia pertelevisian mulai terbelalak. Bahwa mereka telah tertinggal jauh dari Netflix.

Kasus serupa juga terjadi pada streaming lagu, yang tak lagi bisa dikendalikan oleh produsen label mayor. Tiga dekade lampau, produsen ini telah menguasai jalur radio serta pemasaran dari lagu-lagu terbaru sekaligus mendikte selera pasar. Belakangan, dominasi produsen ini surut berkat teknologi streaming, dan penikmat lagu memperoleh kebebasan menentukan selera musik. Penyebaran cepat genre baru musik melalui stremaing ini tak bisa dihentikan para produsen mayor label, dan mereka pelan-pelan menyaksikan publik sedang merayakan kemenangan mengunduh begitu banyak lagu. Tak perlu repot ke toko CD, tak usah gelisah mencari-cari musik di radio. Semuanya cukup tersedia dalam situs-situs penyedia lagu. Para pencipta lagu tinggal berhubungan langsung dengan pengelola situs-situs ini, selanjutnya siapapun yang hendak mengunduh lagu wajib bayar dulu. Mekanisme ringkas ini memotong mata rantai produksi serta distribusi lagu. Pencipta lagu tak perlu pusing didikte industri musik mayor label, sedangkan konsumen tak perlu menunggu pendistribusian bertele-tele. Cukup masuk ke situs-situs tertentu, bayar, lalu klik unduh lagu. Cepat, hemat plus ringkas. Fakta ini sekali lagi menunjukkan industri musik, dan bahkan buku, kini menghadapi perkembangan teknologi yang telah mengubah permainan bisnis dan mendesak pelaku industri putar otak.

Tak lama usai ledakan digital ini, tiba-tiba mencuat fenomena pembajakan. Karya-karya yang disebar lewat jalur digital, mulai banyak dibajak. Pada satu sisi, perkembangan teknologi memungkinkan perluasan daya jangkau konsumen dan audiens. Pada sisi lain, terjadi pembajakan karya-karya digital, yang pelan namun pasti terus terjadi. Yang pertama terdampak, tentu saja bisnis digital. Keuntungan yang semula begitu jumbo, mendadak merosot pada tahun-tahun belakangan. Teknologi telah menggerus hak kepemilikan artis, yang diserahkan kepada dunia industri digital (Netflix, iTunes, Sportify atau Amazon). Setelah hak itu dibeli para konsumen, maka dunia industri tak bisa lagi memonitor karya tersebut. Apalagi, proses pembajakan begitu mudah berlangsung di dunia digital. Situs-situs pembajakan tidak saja diakses oleh pengguna internet di negeri asal karya digital itu dihasilkan, melainkan warga di luar yurisdiksi karya tersebut juga bisa mengaksesnya. Fakta ini sangat menyulitkan perlindungan hukum berupa hak cipta pada karya-karya digital. Beda negara, bisa beda pula bingkai hukum yang dipraktekkan. Maka, penegakan hukum pun ditujukan pada situs-situs pembajakan yang memang berada di negeri Barat, tapi dampak penutupan situs ini terlihat pada negara-negara lain. Dua penulis buku ini mencatat, setidaknya terjadi peningkatan penjualan karya digital sampai di atas lima persen, usai penutupan situs pembajakan seperti megaupload di AS pada Januari 2012.

Catatan penting di akhir buku ini menunjukkan bahwa dunia bisnis tak mungkin menjauh – apalagi meninggalkan – perkembangan teknologi. Walaupun perkembangan ini membuka peluang luas mendongkrak bisnis, namun di sisi lain tetap ada resiko yang kadang belum terpikirkan. Sukses Netflix menerobos kebekuan industri hiburan melalui tayangan mini seri berbayar, tentunya memperlihatkan adanya peluang itu. Meski di sisi lain, Netflix dan juga produsen karya digital lainnya juga harus menghadapi resiko pembajakan, bahkan pencurian karya digital yang mudah dilakukan berkat kemajuan teknologi internet saat ini. Dua penulis buku ini menegaskan dirinya tetap optimis atas perkembangan bisnis dengan penggunaan teknologi internet, dan buku ini tampaknya menjadi sinyal peringatan kepada para pelaku bisnis digital. Selain juga menjadi semacam pemetaan untuk khalayak umum.***

(Peresensi adalah alumni FH Unair dan master studi pembangunan dari ISS, Den Haag, Belanda. Kini, periset pada the Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi/JPIP)