Jaringan Bisnis Batik Kuno Kian Meluas

Pasar batik kuno
Ahmad Choiri sedang merapikan batik Pagi Sore koleksinya. Bisnis batik kuno ini terbentuk secara alami dan perkembangannya kian meluas. FOTO: SUREPLUS/SAHLUL FAHMI

GRESIK-SUREPLUS: Pasar batik kuno memang tak terlalu mencolok. Namun menurut Ahmad Choiri, salah seorang pelaku bisnis batik kuno asal Gresik, jika dicermati bisnis ini ternyata juga memiliki jaringan yang terbentuk secara alami. Bahkan dari hari ke hari, perkembangan jaringannya kian meluas.

Karena itu Choiri rela melakukan perjalanan keliling dari kota ke kota di Indonesia demi berburu koleksi batik kuno yang sudah langka. Dari perjalanannya tersebut pemilik Rumah Batik Gajah Mungkur Gresik itu mendapatkan aneka ragam batik kuno, seperti batik Tiga Negeri dan batik Pagi Sore yang usianya lebih dari 100 tahun.

“Batik Tiga Negeri ini dibuat oleh Tjoa Siang Gwan. Keunikan dari batik ini adalah dibuat di tiga kota, yakni Lasem, Pekalongan dan Yogyakarta. Oleh karena itulah batik ini banyak diburu oleh kolektor batik,” kata Ahmad Choiri, pria berusia 42 tahun ini kepada Sureplus.id, Sabtu (07/04/2018).

Sementara, lanjut Choiri, batik Pagi Sore juga tak kalah menariknya. Ciri khas batik yang dibuat oleh Eliza Van Zuylen ini mempunyai dua sisi, yakni sisi terang dan sisi gelap. Batik ini bermotif bunga dengan dominasi warna hijau yang dibuat pada tahun 1930. “Untuk batik langka biasanya saya jual Rp 30 juta,” lanjut Choiri.

Selain kedua batik langka tersebut, Choiri juga memiliki puluhan koleksi batik kuno pesisiran dan batik sogan yang usianya sudah mencapai 50 tahunan. “Bedanya kalau batik pesisiran Tuban, Lasem, Pekalongan itu cenderung berwarna terang. Sedangkan untuk batik sogan Solo dan Yogyakarta, warnanya cenderung gelap,” jelas Choiri. (SAHLUL FAHMI/AZT)

Editor: Aziz Tri P