Kain Tenun Fibrinana

Bahan Dasar Sederhana Bernilai Jual Tinggi

kain tenun berbahan dasar dari serat pohon pisang
Nuzulul Azizah Ramdan Wulandari berhasil menciptakan kain tenun berbahan dasar dari serat pohon pisang yang bernilai jual tinggi. FOTO: SUREPLUS.ID/RAHMAD SURYADI

SURABAYA-SUREPLUS: Bernama lengkap Nuzulul Azizah Ramdan Wulandari. Perempuan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini telah berhasil menciptakan kain tenun berbahan dasar dari serat pohon pisang yang bernilai jual tinggi.

Ide awal pembuatan kain ini ketika Owel (sapaan akrab Nuzulul Azizah) mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan mengajukan proposal tentang serat pohon pisang yang dapat diolah sebagai kain. Saat itu ia tertarik menggunakan serat pohon pisang setelah membaca sebuah jurnal yang menyatakan bahwa di Jepang serat pohon pisang bisa digunakan sebagai benang operasi.

“Katanya di Jepang itu serat pohon pisang digunakan sebagai benang operasi, berarti bahannya kuat. Dari situ saya mulai coba-coba, bagaimana serat pohon pisang yang per helai ini bisa dijadikan tenun layaknya tenun sutera,” tutur perempuan berhijab ini.

Bersama kedua temannya, Owel mempunyai ide membuat bisnis pakaian atau clothing line. Hal itu dikarenakan sangat menggemari dunia fashion. Pada 2015 ia bersama teman-temannya membuat usaha clothing line yang diberi nama ‘Fibrinana’ (Fiber Banana).

“Saya bersama dua teman di kelompok PKM tahun 2014 itu mengembangkannya. Lantas di tahun 2015 Fibrinana kami launching,” ujarnya.

Terlepas cikal bakal berdirinya usaha tersebut, pengolahan serat pohon pisang membutuhkan waktu yang relatif lama dan rumit. Untuk menjadikan helai benang, pelepah pisang diserat menggunakan bambu. Kemudian direndam menggunakan air biasa selama dua minggu. Setelah itu masuk ke tahap proses pengeringan sekitar satu minggu.

Setelah proses pengeringan, barulah proses sambung atau mulai menenun dengan menggunakan teknik tertentu agar helai per helai dapat menyatu. Setelah melalui proses tenun, kain tenun serat pohon pisang tadi dikeringkan lagi selama dua hari.

Untuk menjadikan kain tenun serat pohon pisang menjadi sebuah baju dibutuhkan mesin jahit khusus. “Kalau dijadikan baju, ada mesin jahitnya sendiri. Juga ada penjahitnya, saya hanya mendesain saja,” ujar perempuan kelahiran Malang ini.

Store di Banyak Kota

Perempuan berusia 22 tahun ini mengungkapkan keinginannya untuk pencapaian Fibrinana di tahun depan. Ia berharap punya store sendiri di Surabaya dan di kota-kota lain.

Tak hanya ingin memiliki store sendiri, Owel juga berkeinginan, kelak Fibrinana dapat dijadikan ladang bisnis untuk mendukung pendapatan di masa mendatang. Ia juga berharap, produknya ini bisa berkembang luas. Ia bahkan bertekad, kain tenun serat pohon pisang miliknya ini bisa menjadi kain nasional nomor dua yang mewakili Indonesia setelah kain batik.

“Saya ingin Fibrinana ini punya store sendiri, kalau selama ini masih gabung sama brand lain. Dan aku juga berangan-angan Fibrinana ini jadi kain nasional nomor dua setelah batik,” ucapnya.

Kini omset Fibrinana rata-rata per bulan mencapai puluhan juta rupiah. Bahkan karya anak muda ini sampai diapresiasi oleh pasar internasional di Praha, Republik Ceko. Selain itu, Brand ini juga mendapatkan penghargaan dari YSEALI (Young Southeast Asian Leaders Initiative) sebagai Top 5 Young Enterpreneur di Singapura pada tahun 2016 silam.(SURYA/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnaz