Teknologi Bioflok

Tren Budidaya Ikan Lele di Kediri

Teknologi bioflok
Teknologi bioflok semakin menjadi tren di kalangan peternak ikan lele di Kabupaten Kediri. FOTO: SUREPLUS.ID/AYU CITRA SR

KEDIRI-SUREPLUS: Sampai kuartal pertama 2018, teknologi bioflok semakin menjadi tren di kalangan peternak ikan lele di Kabupaten Kediri. Sistem budidaya jenis ini sering digunakan masyarakat karena efisien dan lebih maksimal dalam pemanfaatan lahan sempit.

“Metode pengembangan bioflok adalah menggunakan sistem mikroorganisme untuk mengolah limbah ikan lele itu sendiri sebagai bahan makanan,” kata Kepala Desa Sumberejo, Samsul Aziz, di Kabupaten Kediri, Jumat (6/4/2018).

Melalui teknik bioflok, proses mikroorganisme tersebut dilakukan dengan memberikan kultur bakteri non-pathogen (probiotik). Kemudian, sekaligus memasok oksigen serta mengaduk kolam.

Di Kabupaten Kediri, salah satu kecamatan yang membudidayakan ikan lele dengan teknologi bioflok adalah Kecamatan Grogol. Di kawasan tersebut ada dua desa yang serius mengembangkan usaha ikan lele dengan metode bioflok, yakni di Desa Sumberejo dan Desa Cerme.

Diyakini oleh Samsul Aziz, selaku Kepala Desa Sumberejo, dengan menggunakan metode teknologi bioflok maka prospek bisnisnya cukup menjanjikan. Bahkan sampai sekarang, di desa Sumberejo terdapat 9 kolam berbentuk bulat.

“Kami membuat tabung dari jari-jari besi dan dilapisi dengan terpal plastik dengan ketinggian 1,5 meter. Lalu, terdapat selang aeratoer untuk sirkulasi oksigen,” katanya.

Untuk setiap kolam, ada sekitar 3.500 ekor bibit ikan lele. Sementara itu, proyeksi masa panen ikan lele tersebut kurang lebih 4 bulan mendatang.

“Kami yakin, saat panen harga ikan lele ini bisa menyentuh Rp 14.500 per kilogram,” katanya.

Selain di Desa Sumberejo, di Desa Cerme, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri juga mengembangkan teknologi bioflok serupa.

Pengelola sentra ikan lele dengan metode bioflok di Desa Cerme, Sutiono mengaku, untuk hasil panen ikan lele tergantung dari perbandingan jumlah lele dan ukuran kolam.

Namun dengan metode semacam ini, dia merasakan, ada keuntungan tersendiri. Salah satunya, lebih hemat dalam hal pakan.

“Bagi masyarakat yang ingin beternak ikan lele metode bioflok, kami imbau agar dalam pengurasan air tidak boleh sembarangan, karena harus air bagian atas yang dikuras,” katanya.

Kemudian, tips berikutnya adalah dalam proses pengisisan kolam, maka diisi air setinggi 50 centimeter dan diberi pupuk kompos. Lalu dicampur dengan dolomit, di mana semua bahan ini dapat dibeli dari toko pupuk.

“Setelah satu minggu diberi tetes tebu, dibiarkan selama 5-6 hari. Nah, lalu baru bisa dilepaskan bibit lele,” katanya.

Sementara itu, Camat Grogol, Mochamad Imron, memberikan apresiasi besar terhadap hasil pengembangan teknologi bioflok di dua desa tersebut.Pihaknya juga mengingatkan masyarakat terhadap pentingnya konsumsi ikan, khususnya ikan lele.

“Dengan mengonsumsi ikan lele, generasi muda kita akan semakin cerdas dan sehat,” katanya.

Mochamad Imron optimistis, apa yang dilakukan Desa Sumberejo dan Desa Cerme dapat menjadi contoh bagi desa lain di Kabupaten Kediri. Apalagi, kedua desa inilah yang dapat bantuan langsung dari dari Pemerintah Pusat.

Pihaknya berharap, dengan usaha ternak ikan lele yang semakin berkembang, maka hal ini merupakan wujud tanggung jawabnya terhadap pemberian bantuan pemerintah itu. Bahkan sekaligus memberdayakan masyarakat.(Ayu Citra SR/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnaz