Balai Kemenperin Dorong Aktivitas Litbang

Temukan Teknologi Penentu Kadar Karet Kering

kadar karet kering
Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) Kemenperin, menemukan penerapan teknologi untuk menentukan kadar karet kering. FOTO: BTTPPI.KEMENPERIN.GO.ID

JAKARTA-SUREPLUS: Berupaya menghasilkan inovasi yang mendukung peningkatan produktivitas dan daya saing industri, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) gencar mendorong seluruh unit pelayanan teknisnya untuk aktif melaksanakan penelitian dan pengembangan (Litbang).

Salah satu hasilnya, Litbang yang diinisiasi oleh Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) Semarang menemukan penerapan teknologi light scattering berbasis mikrokontroler. Fungsinya untuk menentukan kadar karet kering.

Teknologi ini perlu dimanfaatkan oleh industri karet alam nasional, khususnya yang mengolah jenis karet alam lembaran atau ribbed smoked sheet (RSS). “Teknologi ini memiliki akurasi yang lebih baik jika dibandingkan dengan metode gravimetri yang lazim digunakan di Indonesia,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), Ngakan Timur Antara di Jakarta, Senin (02/04/2018) lalu.

Dikutip dari Siaran Pers Kemenperin di kemenperin.go.id, Ngakan menambahkan bahwa Inovasi dari BBTPPI ini juga telah mendapatkan pengakuan sebagai salah satu dari 108 Inovasi Indonesia Prospektif oleh Business Innovation Center dan LIPI.

Ngakan menjelaskan, metode gravimetri dilakukan dengan cara memperbandingkan massa sesudah pengeringan dibandingkan dengan massa sebelum pengeringan.

“Bagi beberapa perusahaan, metode gravimetri dianggap belum cukup akurat untuk menentukan kadar karet kering pada lateks, karena dalam praktiknya, penentuan kadar kering karet masih mengandalkan feeling dari operator,” tuturnya.

Maka, lanjutnya, diperlukan pendekatan teknologi agar lebih memudahkan. BBTPPI pun mengembangkan hasil risetnya. “Teknologi light scattering berbasis mikrokontroler ini juga merupakan metode non-destructive dan tidak menggunakan bahan kimia dalam proses analisanya,” tegas Ngakan.

Teknologi ini juga sudah terverifikasi pada standar ISO 126 : 2005 tentang Method Of Test For Natural Rubber Latex, Determination of Dry Rubber Content.

Menurut Ngakan, kadar karet kering dalam industri karet merupakan salah satu faktor penentu baik tidaknya kualitas suatu lateks. “Kadar karet kering lateks atau bekuan sangat penting untuk diketahui, karena selain dapat digunakan sebagai pedoman penentuan harga, juga menjadi standar dalam pemberian bahan kimia untuk pengolahan karet RSS, thin pale crepes, dan lateks pekat,” paparnya.

Pada pengolahan karet lembaran, misalnya, nilai kadar karet kering pun digunakan sebagai dasar dalam menentukan jumlah kebutuhan air pada proses pencairan lateks sampai diperoleh kadar karet baku atau yang standar. ”Bahkan, kadar karet kering menjadi pertimbangan penting dalam penentuan biaya produksi dari karet jenis RSS,” imbuhnya.

Pengembangan industri karet hilir di dalam negeri masih cukup prospektif karena Indonesia merupakan salah satu negara utama penghasil karet alam dengan produksi melebihi tiga juta ton per tahun.

Apalagi, produksi karet alam nasional masih dapat ditingkatkan mengingat potensi lahan yang ada mencapai 3,5 juta hektare, Juga didukung program-program penelitian dan pengembangan yang dilakukan baik oleh Pemerintah, institusi pendidikan maupun pihak swasta.

Terlebih lagi, adanya kebijakan Pemerintah dalam pembangunan tol laut dinilai menjadi peluang besar bagi industri karet nasional untuk menunjang kebutuhan pembangunan pelabuhan seperti menghasilkan rubber dock fender,rubber floating fender, dan rubber bumper.

Merujuk data Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), karet alam menyumbang sebesar 45 persen untuk bahan baku ban. Produk ban dalam negeri menjadi salah satu komoditas andalan ekspor Indonesia. Dari total produksi, 70 persen untuk ekspor dengan nilai mencapai 1,5 miliar dolar AS per tahun. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P