Mencicipi Coklat di Doesoen Kakao, Glenmore

[caption id="attachment_534" align="aligncenter" width="800"]Doesoen Kakao Doesoen Kakao menjadi destinasi wisata baru di Banyuwangi. Dusun coklat ini ada di wilayah perkebunan PTPN XII, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi. FOTO: HUMAS KAB BANYUWANGI[/caption]

BANYUWANGI-SUREPLUS: Pertengahan November 2017 lalu, Menteri BUMN Rini Soemarno meresmikan Doesoen Kakao, sebuah destinasi wisata baru di Banyuwangi. Dusun coklat ini ada di wilayah perkebunan PTPN XII, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi dan ini menawarkan wisata edukasi coklat.

Doesoen (dusun) Kakao ini terletak di areal perkebunan kakao seluas 1.500 hektar. Dari sinilah kakao-kakao Banyuwangi diproduksi yang kemudian diolah menjadi cokelat yang dipasarkan di berbagai daerah dan negara

Seperti dikutip dari Siaran Pers Humas Pemkab Banyuwangi, Menteri Rini memuji Banyuwangi memiliki destinasi wisata agro, Doesoen Kakao. Destinasi ini tidak hanya menjadi tempat rekreasi bagi wisatawan tapi juga bisa jadi tempat pembelajaran tentang komoditas coklat.

“Di sini ternyata memiliki berbagai jenis coklat, bahkan ada coklat Edel, jenis terbaik di dunia. Ini sangat tepat untuk wadah pembelajaran dan jadi pusat pengembangan coklat. Masyarakat bisa belajar tentang cokelat dan potensi cokelat ke depan,” kata Rini.

Cokelat Glenmore memang dikenal sebagai salah satu kualitas terbaik dunia, yakni jenis Edel. Bijinya berwarna putih, beda dari biji kakao pada umumnya yang berwarna keunguan. Kadar lemaknya rendah dan tidak mudah leleh. Rasa cokelatnya cenderung asam buah-buahan, dan after taste-nya menghasilkan rasa madu.

Rini pun berharap agar PTPN terus mengembangkan potensi coklat. Menurutnya, tanaman cokelat merupakan salah satu komoditas perkebunan dengan harapan usaha yang sangat baik terutama di pasar internasional. Kebutuhan cokelat terus meningkat hingga pangsa ekspornya terbuka luas.

Di destinasi wisata ini, pengunjung bisa menikmati suasana sejuknya udara perkebunan kakao dan karet. Selain itu, pengunjung dapat berwisata kuliner menjajal menu makanan dan minuman yang serba terbuat dari cokelat. Seperti, pisang crispy topping cokelat, minuman cokelat panas, permen cokelat, dan masih banyak lagi.

Selain itu, wisata ini menawarkan wisata edukasi sejarah cokelat. Pengunjung diajak berkeliling dengan shuttle car, mempelajari budidaya kakao yang merupakan bahan baku cokelat. Mulai proses pembibitan hingga panen, serta pengolahannya karena wisata ini satu areal dengan pabrik pengolahan coklat.

Perkebunan Kendeng Lembu sendiri mampu memproduksi cokelat hingga 950 ton per tahun, dengan produktivitas 800 kilogram kakao per hektare. “Kebanyakan diekspor ke Jepang, Jerman, Prancis, Italia, Amerika, Malaysia dan Singapura. Namun ada juga yang diolah sendiri jadi permen cokelat untuk oleh-oleh wisata,” kata Manager Kebun Kendeng Lembu, Titon Tantular. (PRS/AZIZ)

Posting Komentar

0 Komentar