OPINI

Rp 200

Ilustrasi Rp 200. FOTO: WIKIPEDIA

Oleh Rusdi Zaki*

Apalah arti dua ratus perak di era milenial? Pengemis pun enggan menerima. Pembeli ritel lebih suka diberi kembalian permen dari pada uang logam itu. Mencari keping pecahannya pun sulit setengah mati.

Boleh jadi, karena itu, ketika awal pekan silam pemerintah menaikkan pertalite Rp 200 tidak ada gejolak. Tidak ada antrean panjang kendaraan bermotor di pom bensin seperti zaman yes(terday). Orang tulus menerima kenaikan itu. “Wong cuma rong atus!” kata orang Jawa sambil senyum-simpul.

Orang mafhum atas penyesuaian kembali harga pertalite. Kita punya tambang minyak. Meski praktik pertambangan tetap tergantung negara lain. Itu bukan rahasia. Banyak cara mengibuli rakyat. Yang tidak disubsidi. Yang harga minyak dunia terjun bebaslah. Dan masyarakat imun dengan buli-buli tersebut. Justru para ibu rumah tangga menjawab sambil cekakakan. “Kalau kita mandiri di bidang perminyakan, Singapura bangkrut, Chevron gulung tikar, AS akan jual minyak eceran di kaki lima.” Nah, lo!

Yang sangat mengesankan, harga bensin naik berulangkali dalam kurun singkat, orang tetap tenang. Ada sih satu-dua yang menjadi ember jebol. Seliter memang naik dua ratus perak. Kalau setangki mobil isi 100 liter kan harus merogoh kocek Rp 20.000 lagi. Toh provokasi semacam ini tidak laku. Para sopir hanya mengelus dada, sambil mengurangi rokok atau sarapannya. Mereka sudah terprovokasi mantra Pak Harto dulu, “kencangkan ikat pinggang”.

Logika lain, kenaikan bensin diikuti kenaikan kebutuhan hidup. Karena minyak memutar roda transportasi dan industri. Mengangkut kebutuhan hidup dari hulu ke hilir. Logika itu pun dipatahkan oleh tradisi. Dengan bijaksana rakyat menanggapi kenaikan kebutuhan hidup berdasar siklus waktu. Karena jelang imlek, harga minyak goreng naik. Karena jelang paskah, harga telur naik. Karena jelang puasa dan lebaran, harga beras naik. Karena jelang lebaran haji harga, kambing naik.

Begitulah. Jangan bilang kenaikan sembako karena signifikan kenaikan bensin. Kebanyakan orang menganggap, kenaikan sembako karena kita kebanyakan upacara! Hukum ekonomis banget.

Saling terkait atau tidak, seperak-dua kenaikan sembako atau bensin, tetap saja harga barang kian mahal. Sepanjang sejarah bangsa ini, sejak kemerdekaan dahulu kala, belum pernah terdengar ada kebijakan penyesuaian harga lebih rendah. Selalu lebih tinggi. Akibatnya anak-cucu kita tidak kenal pecahan mata uang sen, kelip, ketip, setali, serupiah, seratus. Era milenial hanya mengenal pecahan ribuan.

Dan, kalau mau gagah-gagahan, kita sebenarnya adalah pengkhianat. Mengkhianati amanat penderitaan rakyat. Betapa tidak, ketika rezim orde lama tumbang, rakyat berkoar-koar menuntut; Tritura (Semoga tidak lupa). Salah satu tuntutan tersebut adalah “turunkan harga”!

Sudah lewat setengah abad. Dua tuntutan rakyat terkabul. Namun satu tuntutan lagi masih “diperjuangkan” (entah siapa yang berjuang?). Masih mengambang. Bahkan membumbung. Tinggi, tinggi sekali.

Boleh jadi, karena itu, berapapun pemerintah menyesuaikan harga. Dua ratus perak memang tidak ada artinya di dunia perniagaan. Tapi tetap lebih mahal dari harga sebelumnya. Artinya, mereka tetap mengkhianati amanat rakyat. Artinya lagi, belum ada rezim yang bisa memenuhi amanat itu. Artinya lagi lebih jauh, entah kapan, pemerintah yang mana nanti yang bisa membuat kebijakan tidak menaikkan harga. Rakyat tetap berbaik sangka, kok!

*) Rusdi Zaki, penyair cum jurnalis, tinggal di Surabaya