Peluang Ekspor Produk Teh ke Mancanegara

Ekspor Teh 2017 Capai 117,96 Juta Dolar AS

Nilai ekspor teh Indonesia
Industri teh di Indonesia masih berpotensi tumbuh, lantaran kecenderungan pola konsumsi masyarakat dunia meningkat seiring pertumbuhan ekonomi global. FOTO: BUMN.GO.ID

BANDUNG-SUREPLUS: Nilai ekspor teh Indonesia pada tahun 2017 mencapai 117,96 juta dolar AS, atau meningkat 1,04 persen dibandingkan tahun 2016 yang senilai 116,75 juta dolar AS.

Data tersebut menunjukkan industri teh di Indonesia masih berpotensi tumbuh, lantaran kecenderungan pola konsumsi masyarakat dunia, khususnya menengah ke atas, meningkat seiring perbaikan pertumbuhan ekonomi global.

“Target yang Kemendag harapkan adalah adanya peningkatan pada grafik ekspor teh Indonesia, meski pun perlahan tapi pasti. Di pasar ekspor, Indonesia memiliki teh berkualitas baik dan aroma khas yang disukai masyarakat global,” kata Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kemendag, Ari Satria.

Seperti dikutip dari Siaran Pers Kementerian Perdagangan (Kemendag) di situs kemendag.go.id, Kamis (29/03/2018), Ari Satria mengemukakan hal tersebut saat

seminar bertajuk Klinik Produk Ekspor ‘Peluang Ekspor Produk Teh ke Mancanegara’ di Bandung, Rabu (28/03/2018) lalu.

Menurut Ari Satria, selama periode tahun 2012–2016, nilai ekspor teh Indonesia turun dengan tren sebesar 8,08 persen. Beberapa penyebabnya adalah penurunan daya beli masyarakat global dan tren penyusutan areal perkebunan teh nasional akibat konversi lahan.

Di tahun 2016, Indonesia menduduki peringkat ke-14 negara eksportir teh dunia dengan pangsa pasar 1,38 persen dari total ekspor teh dunia. Dengan kapasitas produksi sekitar 150.000 ton per tahun pada 2016, pasar teh Indonesia berpotensi untuk terus dikembangkan. Tiap tahun, Indonesia mengekspor sekitar 50 ribu ton hingga 70 ribu ton teh ke seluruh dunia.

“Untuk lebih memanfaatkan potensi pasar ekspor teh Indonesia, para pelaku usaha harus mampu mempersiapkan manajemen yang efektif untuk penciptaan nilai tambah hingga inovasi produk,” pungkas Ari Satria.

Maka Kemendag pun terus berupaya melakukan diversifikasi produk teh Indonesia, agar semakin bernilai tambah dan berdaya saing untuk memperkuat pasar ekspor komoditas teh.

“Kemendag berharap Klinik Produk Ekspor Teh ini dapat membantu membangkitkan kejayaan teh di antara eksistensi produk-produk agro Indonesia lainnya di pasar global, seperti kopi dan kelapa sawit,” jelas Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Arlinda dalam kesempatan terpisah.

Seminar tersebut terselenggara atas kerja sama Kemendag dengan Asosiasi Teh Indonesia (ATI). Peserta yang hadir merupakan pelaku usaha di sektor teh dari Jawa Barat, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Yogyakarta, dan Bali.

Kegiatan juga dilengkapi dengan paparan Annelis Putri dari Agency for the Valorization of Agricultural Products (APVA), lembaga yang menyediakan sertifikasi ‘gourmet’ untuk produk-produk pertanian ke Eropa, khususnya Prancis. Annelis menjelaskan keberadaan sertifikasi teh sebagai syarat memasuki pasar di Prancis.

Acara Klinik Produk Ekspor Teh ini semakin ramai dengan tea tasting. Para peserta berkesempatan mencicipi berbagai komoditas teh unggulan Indonesia seperti teh hijau dan teh hitam. (PRS/AZIZ)