Vivi Alatas, Lead Economist Bank Dunia

Tak Perlu Pesimis Hadapi Masa Depan

Vivi Alatas
Acara Youth Talkshow yang menghadirkan empat pembicara. Vivi Alatas dari BankDunia, Pardjiono dari BKF Kemenkeu, Peter S dari Kedubes Australia, dan Arya dari Dreamdalion. FOTO: TWITTER

JAKARTA-SUREPLUS: Lead Economist Bank Dunia untuk program pengentasan kemiskinan, Vivi Alatas mengatakan, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dan pendidikan sebagai ruang pembentukan itu penting. Ia mengatakan, anak muda jangan pesimis dengan masa depan. Namun harus dihadapi dengan kesiapan.

Hal itu disampaikan Vivi Alatas dalam Youth Talkshow bertajuk Strategi Pemuda Menghadapi Pasar Tenaga Kerja di Masa Depan, Rabu, (28/03/2018) di Jakarta, seperti dikutip dari berita kemenkeu.go.id, Kamis (29/03/2018).

Vivi mencontohkan, sejarah disrupsi teknologi terjadi berkali-kali. Dahulu, di masa Socrates ketika cara menulis mulai ditemukan, ia ditakuti karena akan menggantikan peran memori otak kita.

Ratu Elizabeth I juga pernah mengatakan, mesin akan mengubah para pekerja menjadi pengemis. Di awal abad 20, pernah juga dikatakan bahwa 100 tahun ke depan manusia tidak perlu bekerja 40 jam seminggu karena akan ada yang menggantikan peran tersebut.

“Artinya ternyata semua hal itu tidak terbukti. Pesimisme yang berlebihan ternyata tidak terjadi, harapan yang utopia juga tidak terjadi. Untuk ke depannya juga seperti itu,” tandasnya.

Ia bahkan melihat banyaknya harapan baru di masa mendatang, di era yang disebut revolusi industri ke-4 ini, berbagai macam platform ekonomi berkembang. Misalnya, inovasi teknologi yang melahirkan 3D printing, internet optik, dan sebagainya, justru akan membuka pasar yang sebelumnya tidak ada.

“Marketnya akan jadi lebih besar, bukan hanya di kecamatan kita, atau di kabupaten kita, atau bahkan bukan hanya di benua kita,” tuturnya.

Selain itu, perkembangan ke depan akan menciptakan inovasi dan efisiensi yang jauh lebih baik. Namun di saat yang sama, ia juga akan tetap bisa melahirkan apa yang disebut dengan winner takes all.

Situasi ini yang juga terjadi di masa-masa sebelumnya, di mana ada pihak yang dikalahkan hingga melahirkan ketimpangan. Di titik ini, kesiapan sumber daya manusia dan pendidikan sebagai ruang pembentukannya menjadi penting dan urgen.

Youth Talkshow yang digelar oleh Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan ini dihadiri juga oleh utusan Kedutaan Besar Australia dan Yayasan Dreamdelion Indonesia, sebuah community development yang berfokus pada isu-isu terkait pendidikan, kesehatan dan lingkungan, serta pendampingan pemberdayaan ekonomi lokal.

Acara ini digelar dalam rangka Voyage to Indonesia, sebuah rangkaian kegiatan yang diadakan menyambut Pertemuan Tahunan IMF-Kelompok Bank Dunia 2018 di Bali, Oktober 2018 mendatang. (PRS/AZIZ)