Industri Kuningan Tingkatkan Efisiensi

Manfaatkan Bahan Baku Daur Ulang

daur ulang bahan baku kuningan
Pengembangan strategi di industri kuningan dinilai akan turut mendorong kinerja industri logam nasional. FOTO: KEMENPERIN

JAKARTA-SUREPLUS: Memanfaatkan daur ulang bahan baku kuningan atau tembaga dari sisa peralatan rumah tangga dan proyek yang sudah tak terpakai, menjadi salah satu strategi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk meningkatkan daya saing industri kuningan.

“Upaya ini sebagai wujud juga untuk pelestarian lingkungan. Apalagi dengan teknologi saat ini, kualitas tetap terjaga dengan bahan baku daur ulang,” kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Harjanto di pelantikan pengurus Gabungan Industri Peleburan Kuningan Indonesia (Gipelki) di Jakarta, Senin (26/03/2018).

Seperti dikutip dari Siaran Pers Kemenperin di kemenperin.go.id, Selasa (27/03/2018), Harjanto menjelaskan, industri kuningan dalam negeri saat ini mampu menghasilkan produk casting (peleburan) dan ekstrusi. Di antaranya berupa valve, meteran air, serta produk kawat dan turunannya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035, salah satu target pengembangan industri kuningan adalah produk kuningan dalam bentuk sheet atau plat. Maka Kemenperin terus memacu produk-produk yang lebih bernilai tinggi dan memenuhi kebutuhan pasar ekspor.

“Masih ada porsi skrap kuningan yang masih dapat diekspor. Dengan keberadaan Gipelki, kami harapkan dapat memfasilitasi identifikasi kebutuhan bahan baku skrap kuningan,” tuturnya.

Pengembangan industri kuningan ini akan turut mendorong kinerja industri logam nasional. Pada tahun 2017, industri logam mencatat pertumbuhan sebesar 5,87 persen atau di atas pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,07 persen. Saat ini, pertumbuhan industri logam dasar masih ditopang dari sektor besi baja, aluminum, nikel, tembaga, dan timah.

Sementara itu, Ketua Umum Gipelki, Eric Wijaya yang juga Komisaris PT Prima Copper Industri menyampaikan,kebutuhan skrap kuningan untuk industri peleburan kuningan di Indonesia. Diperkirakan sebanyak 25.000 ton per tahun atau senilai Rp 2,5 triliun.

“Dari skrap tersebut, perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Gipelki telah memproduksi segala jenis produk kuningan dan behasil menjualnya untuk industri dengan merek dunia,” ujarnya. Bahkan, dari produk yang sudah diekspor, telah digunakan untuk industri sanitari kran air, kepala tabung gas elpiji, serta untuk komponen industri elektronika dan industri tekstil untuk pembuatan resleting.

“Sampai saat ini sudah ada yang mensuplai kuningan silikon untuk membantu pengrajin kuningan memproduksi barang kualitas tinggi,” imbuhnya. Di luar para pengrajin yang memproduksi produk-produk kuningan secara tradisional, di Indonesia saat ini terdapat 12 perusahaan yang melakukan kegiatan produksi peleburan kuningan dengan skala besar. (PRS/AZIZ)