Keberlangsungan Produksi Migas Indonesia

Faktor Teknologi dan Cadangan Baru Jadi Kunci

produksi minyak bumi di Indonesia
Wamen ESDM Arcanda Tahar menyatakan, faktor teknologi dan temuan cadangan baru jadi kunci keberlangsungan produksi minyak bumi di Indonesia. FOTO: ESDM.GO.ID

JAKARTA-SUREPLUS: Faktor teknologi dan temuan cadangan baru merupakan kunci keberlangsungan produksi minyak bumi di Indonesia. Hal itu diungkapkan Wakil Menteri (Wamen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar, Minggu (25/03/2018).

Seperti dikutip dari Tim Komunikasi ESDM di esdm.go.id, Senin (26/03/2018), Arcandra menegaskan faktor teknologi dan cadangan baru tersebut saat membuka paparan di acara Ngopi Bareng Tokoh bertema ‘Kedaulatan Energi Memasuki Indonesia Emas 2045’ di Jakarta.

Menurut Arcandra, teknologi eksploitasi minyak bumi saat ini hanya dapat mengambil 40 persen hingga 50 persen cadangan minyak dari dalam perut bumi.

“Sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa menguras lebih. Selama anak cucu kita bisa menemukan teknologi itu, kita tidak akan bisa memproduksi lebih dari itu. Untuk gas lebih baik, kita masih memiliki cadangan 25 hingga 50 tahun ke depan,” ungkapnya.

Arcandra menuturkan, saat ini Indonesia memiliki cadangan terbukti minyak bumi sekitar 3,3 miliar barel. Dengan asumsi produksi konstan 800.000 per hari tanpa adanya temuan cadangan baru, maka dalam 11 hingga 12 tahun ke depan Indonesia tidak mampu memproduksi minyak bumi lagi.

“Siapa yang tidak percaya Indonesia negara kaya minyak? Tapi ini mungkin tidak 11 sampai 12 tahun ke depan, karena produksi akan turun. Tahun depan mungkin turun menjadi 700.000 (bph) dan seterusnya,” ujarnya.

Lebih lanjut Arcandra menjelaskan, cadangan terbukti minyak Indonesia yang mencapai 3,3 miliar barel tersebut bukanlah cadangan yang melimpah. Bila dibandingkan dengan cadangan terbukti minyak dunia, hanya setara dengan 0,2 persen. Selain itu, Reserve Replacement Ratio (RRR) Indonesia juga dinilai masih rendah.

“Kita hanya mampu reserve replacement ratio 50 persen. Itu adalah rasio berapa banyak yang kita ambil terhadap berapa banyak cadangan minyak yang kita temukan. Kita dua kali lebih banyak mengambil daripada menemukan, sementara negara-negara tetangga banyak yang di atas 100 persen,” pungkas Arcandra. (PRS/AZIZ)