IFIC Hubungkan Industri Mamin Nasional ke Pasar Global

Indonesian Food Innovation Centre
Menteri Perindustrian Airlangga (KANAN). FOTO: KEMENPERIN

JAKARTA-SUREPLUS: Kementrian Perindustrian terus mendorong sektor industri makanan dan minuman (mamin) agar setiap perusahaan dapat menjadi pemasok global. Menurutnya, melalui dukungan pembentukkan Indonesian Food Innovation Centre (IFIC) yang didirikan oleh GAPMMI, Business Innovation Center (BIC), serta Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO) produsen makanan dan minuman dimudahkan dalam memasarkan produknya.

“Dengan adanya IFIC ini diharapkan bisa jadi center of excellent bagi industri mamin di Indonesia. Di tingkat ASEAN, telah menyepakati bahwa industri mamin menjadi sektor andalan ke depan, termasuk dalam pengembangan ekonomi digital,” papar Menteri Perindustrian Airlangga seperti dikutip dari situs Kementrian Perindustrian RI.

IFIC adalah salah satu hasil dari program Indonesia-Australia Comprehensive Partnership Agreement (IA-CEPA), di mana Kemenperin bertindak sebagai focal point. “IFIC ini nantinya mempunyai peran sebagai penghubung global antara industri mamin terhadap inovasi di bidang agro untuk mendukung ketahanan pangan. Jadi, bisa meningkatkan nilai tambah,” jelas Menperin.

Di samping itu, IFIC mempunyai misi untuk mempromosikan produk dan layanan agro-pangan Indonesia. “Dewasa ini organisasi industri dibentuk oleh perilaku perusahaan yang terkoneksi secara global, sehingga keterlibatan suatu perusahaan dalam global value chain menjadi sangat penting. Apalagi, saat ini diperlukan standarisasi internasional untuk perluasan pasar produk industri,” lanjutnya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Ngakan Timur Antara menyampaikan, beberapa strategi yang akan ditempuh IFIC saat ini adalah membuat sistem database inovasi agro-pangan dan membangun kerja sama dengan asosiasi industri luar negeri.

“Kerja sama dengan pihak luar negeri ini memungkinkan industri dalam negeri untuk melakukan benchmarking, mengetahui teknologi proses terkini, memperoleh pendidikan vokasi, pengembangan keahlian untuk best practice serta peningkatan produktivitas,” tuturnya.

Menurut Ngakan, langkah sinergi ini juga akan menguntungkan kedua belah pihak karena daya tarik Indonesia sebagai pasar produk pangan sangat besar. “Australia sebagai contoh telah siap menjalin kerja sama karena pangsa pasar ASEAN yang mencapai 600 juta orang, ditambah lagi jika melihat lebih spesifik terhadap pangsa pasar produk halal yang mencapai 1,8 miliar orang,” ungkapnya.

Selain kerja sama dengan luar negeri, IFIC ke depannya akan didorong untuk berkolaborasi dengan Balai Besar Industri Agro (BBIA), salah satu unit pelayanan teknis di bawah BPPI Kemenperin. Kolaborasi ini ditujukan untuk membentuk Taman Sains dan Teknologi atau Science Techno Park (STP) yang berfungsi sebagai wahana interaksi antara industri, akademisi dan pemerintah.(PRS/ZAL)