HISTORY

Bangsa Tempe

Ilustrasi tempe. FOTO: WIKIPEDIA

Oleh Rusdi Zaki*

Alkisah, waktu kecil saya dengar Bung Karno melarang bangsa Indonesia makan tempe. Saya senang sekali atas larangan itu. Karena saya tidak suka tempe. Kalau ibu memberi lauk tempe saya menolak. Alasan saya karena dilarang presiden.

Sama-sama berbahan kedele, saya lebih suka tahu. Lebih keren. Banyak varian. Tahu campur, tahu tek, tahu pong, tahu kuning kediri, tahu isi, tahu berontak, tahu bulat, tahu genjrot, dan lainnya lagi. Sedangkan tempe bagi saya “sangat mengerikan”. Variannya seperti tempe menjos (atau menjes?), tempe bongkrek, tempe bosok, mendoan, sangat mengganggu perbendaharaan kosa kata saya.

Alih-alih sering melihat orang membuat tempe di Surabaya, saat itu di Petemon atau Tenggilis. Perajin tempe menginjak-injak kedele di sungai. Memang air sungai relatif jernih. Namun imajinasi kecil saya membayangkan kalau kaki perajin tempe terpapar eksim, kutu air, dan penyakit kulit lain. Air sungai bercampur hajat isi perut manusia. Lantas mendengar orang mati massal gara-gara makan tempe (bongkrek misalnya). Mangkanya saya kurang berselera pada tempe.

Mencuri dengar diskusi bapak, paman, dan koleganya di warung kopi, ternyata Bung Karno bukan melarang makan tempe. Malah lebih dari pada makan. Jangan jadi “bangsa tempe”. Saya dapat memahami imbauan itu. Maksudnya, mungkin jangan seperti bangsa kedele yang diinjak-injak sebelum menjadi tempe. Jangan mau menjadi bangsa yang selalu diinjak-injak kolonialisme. Bung Karno memang pandai membuat perumpamaan.

Apalagi tempe adalah sebuah dialektika. Kedele yang baik untuk pembuatan tempe adalah kedele luar negeri. Impor dari AS atau Argentina. Bentuk lebih besar. Lebih bersih. Jika direbus lebih empuk. Berbeda dengan kedele lokal. Bentuk lebih kecil. Warna kusam. Lebih pejal. Biasanya dibuat tahu. Saya kira, saya lebih nasionalis dengan menyukai tahu!

Ketika saya menikah, istri tinggal di desa sentra industri rumahan produsen tempe. Mertua memang bukan perajin tempe. Justru biang keladi tempe. Beliau pemasok kedele. Tak pelak, di meja makan selalu terhidang tempe. Entah digoreng, dikukus, direbus, atau diolah jadi tempe kering, sambal goreng, dan seterusnya. Di pasaran pun “booming” tempe penyet. Hampir di setiap kaki lima, emper toko, lahan kosong, berdiri warung tenda. Meskipun jual pecel, rawon, bebek goreng, atau sea food, selalu ada menu penyetan tempe.

Saat itu harga kedele impor Rp. 700-Rp. 800/kg. Nilai tukar per dollar AS Rp. 2.000 sampai Rp. 3.000. Menjelang krisis moneter akhir abad 20 fluktuasi harga kedele meningkat tajam. Mencapai Rp. 3.000-Rp. 4.000/kg. Ini tamparan berat perajin tempe. Mereka turun ke jalan memprotes para pemasok kedele. Bahkan, bersama para pemasok kedele mereka mendatangi instansi terkait. Hasilnya, harga kedele tetap tak terkendali. Kini, harga kedele berkisar Rp 7.000/kg.

Imajinasi buruk saya terhadap tempe pun berantakan. Bukan karena setiap hari berlauk tempe. Tetangga istri saya membangun rumah karena tempe. Mereka menunaikan ibadah haji ber-ONH tempe. Menyekolahkan anaknya hingga sarjana ber-SPP tempe. Mereka hidup makmur dari tempe. Apalagi ada penelitian yang menyebutkan gizi tinggi tempe. Tempe memang gurih nikmat.

Kini kegalauan perajin tempe bukan faktor harga yang tetap tinggi. Ada koperasi kedele di desa yang coba menekan harga. Bahkan sudah mengantongi izin impor. Namun beberapa kali masih tertipu makelar. Karena tak punya agen di negara pengekspor. Makelarnya sesama WNI juga. Biasalah menggunting dalam lipatan.

Kegalauan paling mengganggu adalah kaderisasi. Keberhasilan pendidikan tinggi anak-anak perajin tempe membuat mereka enggan turun ke sungai. Menginjak-injak kedele. Merebus kedele di dapur pengap. Para sesepuh tempe di desa istri saya membandingkan. Di Petemon dan Tenggilis sudah langka penduduk asli yang membuat tempe. Posisi mereka digantikan urbanis dari Pekalongan.

Apalagi mereka cukup sekali merebus kedele. Biasanya dua kali. Warna tempe kaum urbanis lebih jernih. Jika tempe desa istri saya masak pagi, sore menghitam. Tempe mereka tetap putih sampai keesokan hari. Kemasannya pun higienis. Ada yang dibungkus plastik, ada dibungkus daun. Penataan di etalasenya pun menarik. Disusun lebih tinggi dari keranjang. Pedagang tempe dari desa istri saya dagangannya tenggelam dalam keranjang.

Kalau Bung Karno masih hidup, saya ingin meralat pendapatnya. Jangan melarang makan tempe. Perjuangan bangsa tempe sangat luar biasa. Meskipun ditekan harga kedele. Diinjak-injak saat membersihkan kulit. Direbus berkali-kali. Ditelikung makelar ekspor-impor. Tempe tetap favorit. Seorang teman yang sudah njajah desa milankori keenam benua, mengajak saya masuk restoran makanan khas Eropa. Setelah memesan beberapa menu, dia minta digorengkan tempe. Pelayannya kelabakan. Alasan teman saya, apapun makanannya, dia tak bisa menelan kalau tidak ada tempe goreng.

*Rusdi Zaki, penyair cum jurnalis, tinggal di Surabaya