HISTORY

Serba-Serbi Kerupuk

Ilustrasi. FOTO: CapsulCrunch.com

Tidaklah berlebihan jika kita menyebut kerupuk sebagai salah satu makanan ringan yang paling banyak disukai. Popularitasnya bahkan menerobos masuk ke berbagai strata sosial, etnisitas dan keyakinan. Hal ini dapat kita lihat betapa di rumah-rumah, di warung-warung, mulai dari yang paling sederhana sampai ke restoran paling mewah di seluruh daerah dan pelosok Indonesia, kerupuk selalu tersedia.

Sebagaimana tercatat dalam prasasti Batu Pura, kerupuk sudah ada di Pulau Jawa sejak abad ke-9. Di situ tertulis kerupuk rambak. Sampai hari ini kerupuk rambak masih diproduksi. Pembuatannya menggunakan bahan kulit sapi atau kerbau yang telah dibuang lapisan selaputnya dan dihilangkan bulunya dengan cara dibakar. Setelah bersih, kulit kemudian digodog hingga empuk dan diiris sesuai bentuk dan ukuran yang dimaui lalu dijemur hingga kering [lihat Ensiklopedi Umum yang disusun oleh AG Pringgodigdo].

Dalam perkembangannya kemudian, kerupuk menyebar ke berbagai wilayah pesisir Kalimantan, Sumatra, Semenanjung Melayu dan pesisir Nusantara lainnya sehingga muncul varian rasa yang berbeda. Sastrawan terkenal Melayu keturunan Arab Hadramaut bernama Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, ketika membicarakan kehidupan sehari-hari di Malaya dalam tulisan yang dipublikasikan pada tahun 1849, juga menyebut kerupuk (keropok) sebagai makanan ringan populer di masyarakat Melayu. Kerupuk mulai disukai di mancanegara sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda dan dianggap sebagai makanan pelengkap kuliner Nusantara yang harus tersedia di meja makan.

Sebagaimana lazimnya informasi sejarah, kerupuk juga memiliki cerita lisannya sendiri. Konon di masa lalu, ada sepasang suami-istri miskin yang mempunyai banyak anak. Karena tidak memiliki pendapatan yang memadai untuk menghidupi keluarganya, mereka memanfaatkan sawut atau ketela pohon yang sudah diparut untuk dijadikan lauk yang dimakan bersama nasi.

Cara membuat sawut adalah dengan menggunakan ketela pohon yang diparut dan diberi air. Hasil parutan yang sudah diberi air lalu diperas dan diambil sarinya. Setelah diendapkan beberapa saat, sari ketela pohon itu lantas dijemur hingga kering dan diolah menjadi tepung yang hari ini kita sebut dengan tepung tapioka. Dari tepung inilah kerupuk yang pada waktu itu dinamakan samiler dibuat.

Ada kisah menarik tentang kerupuk yang kiranya membuat kita semakin bangga dengan produk asli kuliner Indonesia ini. Ketika pemerintah membeli sebelas pesawat tempur super canggih Sukhoi Su-35 “Flanker-E” buatan Rusia dengan imbal dagang (barter) senilai Rp15,162 triliun melalui pelaksana teknis Rostec Corporation dan PT Perusahaan Indonesia di tahun 2017, di antara komoditas yang dibarter, kerupuk adalah salah satunya. (Fahmi Faqih)