Napak Tilas Perjuangan Kemerdekaan di Museum Sepuluh Nopember

museum Sepuluh Nopember
Tampak suasana interior museum Sepuluh Nopember kompleks Tugu Pahlawan Surabaya, Kamis (28/12/2017). FOTO: SUREPLUS.ID

SURABAYA-SUREPLUS: Patung replika arek-arek Suroboyo saat mengusir penjajah dari Bumi Surabaya, serta sejumlah senjata hasil rampasan dari tentara Jepang masih tersimpan rapi dalam beberapa etalase Museum Sepuluh Nopember, Surabaya, yang terletak di kompleks Tugu Pahlawan, Surabaya.

Suara heroik pidato Bung Tomo menambah suasana museum ini kental dengan gambaran kuatnya perjuangan arek-arek Suroboyo dalam menghadapi kolonial kala itu. Sehingga pengunjung serasa dibawa ke dalam atmosfer peristiwa yang terjadi pada 27 tahun silam.

Terletak di Jalan Pahlawan, museum tersebut mampu menceritakan secara detail kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan seolah menuntun pengunjung untuk merunut napak tilas kisah tewasnya Jenderal AWS Mallaby tersebut.

Didirikan pada tanggal 10 November 1991, gagasan awal pembangunan museum ini adalah ide dari Roeslan Abdul Ghani yang merupakan mantan seorang pasukan Pembela Tanah Air (PETA). Di dalam museum yang telah berusia 26 tahun ini memiliki beberapa ruangan yaitu, ruang hening, gugus patung, koleksi patung, hingga koleksi barang pribadi milik Bung Tomo, serta bebrapa peristiwa penting yang dirangkum dalam delapan diorama statis, dan diorama elektronik.

Salah satu peristiwa yang digambarkan dalam bentuk miniatur tiga dimensi dalam diorama statis, adalah peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato kala itu yang kini bergantug nama menjadi Hotel Majapahit. Salah satu pengunjung museum Aan Setyowati mengungkapkan keterpukauannya saat berada dalam ruang diorama elektronik.

“Di diorama elektronik terdapat rangkuman peristiwa pertempuran 10 November yang dikemas dalam sebuah film dokumenter. Dari film tersebut saya mendapat gambaran lebih jelas, gimana beratnya pejuangan para pahlawan yang berani bertempur melawan tentara sekutu dengan menggunakan senjata apapun yang dimiliki,” katanya kepada Sureplus.id.

Diresmikan oleh Presiden keempat Republik Indonesia Abdurrahaman Wahid pada 19 Februari 2000, museum ini terdiri dari bangunan yang berbentuk piramid dan dibangun di bawah tanah sedalam 7 meter dan di atas permukaan tanah setinggi 10 meter.

“Rasanya merinding, apalagi ditambah setelah mendengarkan rekaman pidato Bung Tomo yang berapi-api untuk membakar semangat juang Arek-Arek Suroboyo kala itu,” lanjut mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya.

Museum yang sarat akan kisah heroik dari pengorbanan pahlawan ini ternyata digratiskan bagi pengunjung yang masih berstatus pelajar dan mahasiswa. Sedangkan untuk pengunjung umum hanya ditarik biaya masuk sebesar Rp 2 ribu saja, yang dibuka untuk umum mulai dari hari Selasa hingga Jumat pukul 08.00 sampai 15.00 WIB, sementara pada waktu weekend dibuka hingga pukul 14.00 WIB.

“Biaya tiket sangat murah jika dibandingkan nilai sejarah yang terkandung di dalam museum ini. Sangat pas untuk mengisi waktu liburan yang bermanfaat bagi semua masyarakat Surabaya ataupun para wisatawan lainya,” tutup perempuan yang bertempat tinggal di kawasan Nginden Jangkungan ini.(ZAL)