RESENSI BUKU

Kapitalisme yang Mulai Ringkih

Judul Buku: How Capitalism Destroyed Itself
Penulis : William Kingston
Penerbit : Edward Elgar, UK
Tebal : ix + 174 halaman
Cetakan : Pertama, 2017

Oleh Rosdiansyah*

Kapitalisme dan individualisme berkaitan satu sama lain. Tak bisa dipisahkan, sulit dijauhkan. Awalnya, kepemilikan pribadi merupakan faktor penting dalam sejarah umat manusia. Pertarungan antara satu manusia lawan manusia lain, satu kelompok versus kelompok lain, adalah pertarungan memperebutkan apa yang dimiliki individu. Contohnya, kepemilikan barang berharga. Manusia pemilik barang berharga akan mempertahankan barang tersebut agar selalu dalam penguasaannya. Ia rela melawan siapapun yang hendak merampas barang tersebut. Kepemilikan pribadi menjadi hal penting dalam perjalanan sejarah manusia. Melindungi kepemilikan pribadi kemudian disamakan dengan melindungi harga diri, martabat bahkan harkat kemanusiaan. Mengutip pendapat sejarawan Prancis Fernand Braudel, penulis ini menegaskan bahwa kendali pribadi atas sumber-sumber daya merupakan langkah nyata yang tampak dalam perjalanan sejarah umat manusia. Barang dan sumber daya merupakan bagian tak terpisahkan dari kapital itu sendiri. Sebab, ada nilai di dalamnya yang dilindungi pemiliknya.

Manusia akan selalu bersikap serius dalam kepemilikan pribadi jika sudah menyangkut kegiatan ekonomi. Lagi-lagi penulis buku ini menyodorkan contoh sederhana. Peternak akan selalu melihat berbagai peluang bukan saja untuk memperluas cakupan ternaknya, melainkan ia merasa perlu untuk menjual ternaknya ke pasaran. Ternak, entah kambing atau sapi, merupakan milik peternak. Ternak-ternak itu dilingkupi kepemilikan pribadi sang peternak, dan kemudian menjadi berharga dalam kegiatan ekonomi tatkala sang peternak menjualnya ke pasar. Contoh ini menunjukkan adanya hak individual dari sang peternak. Hak ini menjadi bahan perbincangan luas serta mendalam di daratan Eropa pada abad ke-17 dan ke-18 di lingkungan para filsuf pencerahan. Mereka meletakkan hak ini sebagai nilai penting dalam kemajuan perdagangan sehari-hari. Tanpa nilai ini, maka ekonomi akan mandek. Oleh karena itu, hak individual menjadi penentu perkembangan kapitalisme.

Dalam buku berisi lima bab ini, penulis benar-benar mengupas tuntas peluruhan kapitalisme. Pada bab awal ia mengurai apa dan dimana kapitalisme itu. Masuk ke bab tiga serta empat, mulailah penulis mengungkap betapa pasar dan uang menjadi faktor peluruhan itu. Di akhir bab, penulis menyodorkan kemungkinan penyelamatan sembari tak begitu yakin bahwa hal itu bisa segera dilakukan. Sebagai pengajar pada Sekolah Bisnis di Dublin, Irlandia, penulis buku ini tentu saja paham betul siklus kapital. Menurutnya, kapitalisme telah melahirkan kesejahteraan bagi kelas menengah berpredikat ‘borjuis’. Sejarah Eropa menunjukkan hal itu, ketika komponen-komponen hak individual kemudian bernilai jual sehingga menciptakan kelas borjuis. Mereka berhasil mengubah gagasan menjadi kenyataan. Ironinya, penemu siklus kapital berasal dari hak individual ini justru dua dedengkot komunisme, yakni Karl Marx dan Friederich Engels yang dituliskan dalam karya-karyanya. Ekonom AS kelahiran Austria, Joseph Schumpeter sangat mengagumi diagnosa Marx ini. Bahkan, Schumpeter menyarankan kepada para pembacanya agar menyimak baik-baik diagnosa Marx ini guna mengetahui komponen-komponen penting dalam sejarah kemanusiaan.

Namun demikian, apapun diagnosa terhadap sejarah kapitalisme itu, kenyataan saat ini menunjukkan mulainya abad baru. Kapitalisme memang telah berupaya mempertahankan nilai-nilai moral warisan tiga abad silam yang sekarang justru mulai luruh akibat digerus situasi. Ada kombinasi unik dari situasi ini, Yakni kepercayaan baru terhadap individualisme yang secara implisit berisi tradisi panjang hak kepemilikan individual kini malah memastikan bahwa tindakan untuk individu/diri sendiri (hak individual) ternyata juga bisa menghasilkan keuntungan publik. Namun, hak-hak ini, termasuk undang-undang yang menjabarkan inovasi ekonomi dan keuangan serta demokrasi parlementer, secara bertahap ditangkap dan dibentuk oleh mereka yang dapat memperoleh keuntungan paling banyak darinya. Bila semula kapitalisme diyakini sebagai jalan kesejahteraan, maka belakangan kenyataan menunjukkan kemampuan kapitalisme ini kian menurun. Yang terjadi, jurang ketidaksetaraan kian menganga, dan kaum papa tambah menderita. Keyakinan bahwa pemuasan hak individual berdampak pada keuntungan publik telah menciptakan kelas super sejahtera di tengah surplus kaum papa. Akibatnya, ketidakpercayaan global kian mewabah, termasuk diantara para pemilih dan wakilnya di lembaga-lembaga pemerintahan.

Penulis buku memakai konsep penghancuran kreatif dari Joseph Schumpeter untuk menjelaskan fenomena saat ini. Ketika kian banyak perusahaan lama yang tersingkir dan digantikan perusahaan baru di arena pasar. Menurutnya, setiap bisnis sesungguhnya bisa menghasilkan kekuatan untuk melawan perubahan teknologi secara potensial. Kisah sukses James Watt dengan mesin uap dan Thomas Alva Edison sang penemu lampu merupakan contoh dalam hal ini. Ketika produk-produk Watt dan Edison masuk ke dalam arena pasar, maka perusahaan-perusahaan lama pun dipaksa minggir atau gulung tikar. Perubahan teknologi ini telah menurunkan nilai investasi dari perusahaan sebelumnya. Apalagi ketika perusahaan kian membesar maka ada kecenderungan kian birokratik dan menghindari resiko. Selain itu, investasi dalam inovasi selalu menghadapi ketidakpastian. Akibatnya, perusahaan lama sering lebih memilih jalan menggunakan uang demi mempertahankan situasi lama, sedangkan inovasi teknologi untuk mencapai keuntungan lebih tinggi dan efisiensi malah dihindari. Kekuatan pasar telah mendorong pentingnya inovasi sembari mengabaikan surutnya produk lama. Ada penghancuran kreatif secara sentripetal ke dalam arena pasar.

Sejumlah rekomendasi disodorkan penulis buku ini. Selain reformasi korporasi, kewajiban perbankan perlu diperluas, reformasi hak merek dan paten, serta perlunya cara baru melindungi teknologi. Wilayah perekonomian tersebut sangat dekat pada keseharian warga. Selain juga diperlukan inovasi keuangan dan anggaran publik untuk riset. Beragam rekomendasi dalam buku ini bersifat luas, tidak terbatas hanya sebagai obat untuk negara-negara yang sudah sangat maju dalam perekonomian, namun juga bisa dipraktekkan pada negara-negara sedang berkembang. Oleh karena itu, pilihan dari pemangku kebijakan sekaligus pelaku bisnis dalam hal ini sangatlah diperlukan secepatnya. Jika tidak, maka perkembangan kapitalisme akan memasuki masa-masa suram, dimana penghormatan terhadap hak individual lebih menjadi bencana ketimbang berkah.***

(Rosdiansyah, peresensi adalah alumni FH Unair, master kajian pembangunan dari ISS Den Haag, Belanda, kini peneliti pada The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi/JPIP, Surabaya)