Elon Musk, Tony Stark di Dunia Nyata

Elon Musk
Elon Musk, CEO SpaceX dan Tesla, pendiri The Boring Company dan salah seorang pendiri Open AI. Kerap dijuluki Tony Stark di dunia nyata. FOTO: BUSINESSINSIDER.COM

SINGAPURA-SUREPLUS: Inovasi teknologi level tinggi kerap dilontarkan Elon Musk. Sebagai CEO SpaceX dan Tesla, pendiri The Boring Company dan salah seorang pendiri Open AI, Musk bisa dibilang ada dimana-mana, sekaligus menjadi sosok pemicu semua jenis teknologi terbaru.

Bayangkan saja, Musk mengubah cara pandang kita soal roket ruang angkasa, mobil listrik, bertenaga surya, penelitian tentang robot dan miliaran dolar AS dia raup di sepanjang jalan penciptaan inovasinya tersebut.

Tak heran jika Elon Musk kerap dijuluki Tony Stark dalam kehidupan nyata. Kita tahu, Tony Stark adalah tokoh fiktif komik Iron Man. Muda, jenius, kaya raya sekaligus superhero. Jjalan sukses Musk ternyata tak semudah yang dibayangkan.

Ia merangkak dari awal, menjadi technopreneur kelas terim hingga menjadi CEO dua perusahaan besar. Tapi jangan lupa, ia selalu diwarnai ancaman kebangkrutan di sepanjang perjalanan kariernya.

Elon Musk lahir 28 Juni 1971 di Pretoria, Afrika Selatan. Ayahnya mengatakan, dia sejak kecil selalu jadi pemikir yang introvert. “Ketika banyak pemuda pergi ke pesta dan bersenang-senang atau membicarakan rugby, Elon dijumpai tetap di perpustakaan dan sedang membaca buku,” kata ayah Musk , Errol Musk, seorang insinyur elektronika.

Ibu Musk adalah ahli diet dan model professional, Maye Musk. Ia warga negara Kanada, dan sempat jadi model di kotak sereal dan sampul majalah Time. Setelah orang tuanya bercerai pada 1979, Musk dan adiknya yang berusia sembilan tahun, Kimbal, memutuskan untuk tinggal bersama ayah mereka.

Pada tahun 1983, di usia 12, Musk menjual game sederhana yang disebut Blastar ke majalah komputer seharga 500 dollar AS. Meski begitu, hari-hari sekolah Musk tidaklah mudah. Ia pernah dirawat di rumah sakit setelah dipukuli remaja-remaja nakal.

Mereka melemparkan Musk ke tangga dan memukulinya sampai pingsan. Hal itu diungkapkan Ashlee Vance dalam bukunya Elon Musk: Tesla, SpaceX, dan Quest untuk Masa Depan yang Fantastis’.

Setelah lulus dari sekolah menengah atas, Musk pindah ke Kanada dan menghabiskan dua tahun belajar di Queen’s University di Kingston, Ontario. Musk pindah ke Kanada bersama ibunya Maye, adiknya Tosca, dan saudaranya Kimbal. Tapi dia menyelesaikan studinya di University of Pennsylvania, mengambil gelar di Bidang Fisika dan Ekonomi.

Saat belajar di University of Pennsylvania, Musk dan seorang teman sekelasnya menyewa sebuah rumah 10 kamar dan mengubahnya menjadi sebuah klub malam. Langkah yang dilakukan Musk dengan Adeo Ressi, disebutnya sebagai eksperimen wirausaha ​​pertamanya.

Setelah lulus, Musk pergi ke Stanford University untuk belajar doktoralnya. Tapi tapi dia menunda program doktornya dan memutuskan untuk menguji peruntungan di era dot-com yang baru saja dimulai. Dan Musk tidak pernah kembali menyelesaikan studi doktornya di Stanford. (BIC/AZIZ)