Alumnus Arsitektur yang Memilih Jualan Kopi

Dimas Wibowo
Dimas Wibowo, pemilik usaha Kopi Becak. Nama Becak dipilih, karena alat transportasi jenis ini mampu membentuk ciri khas Indonesia. FOTO: DOK PRIBADI

SURABAYA-SUREPLUS: Bagi Dimas Wibowo, dorongan untuk menjadi wirausahawan kian menguat saat dirinya duduk di bangku kuliah. Apalagi dirinya memang kerap menerapkan pola pikir sebagai seorang entrepreneur. Pada titik inilah ia melakukan eksplorasi terhadap potensi kepariwisataan.

Ia menyadari, sektor pariwisata jika digarap secara serius, mampu menjadi salah satu sumber penyumbang devisa terbesar bagi negara. “Keragaman budaya, kekayaan bahasa daerah, dan keindahan alam bisa dengan mudah menarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Indonesia,” kata Dimas Wibowo, pemilik usaha Kopi Becak.

Dimas Wibowo merupakan alumnus Arsitektur Universitas Kristen Petra Surabaya. Ia bercerita, ada korelasi antara bidang jurusan semasa kuliah dengan aktivitasnya kini sebagai seorang pengusaha kopi.

“Saya suka segala sesuatu tentang perencanaan dan desain, maka setiap usaha yang saya bangun ataupun rintis, pasti saya pikirkan sendiri semuanya. Mulai perencanaan sampai pelaksanaan teknisnya,” kata pria berusia 31 tahun ini.

Maka pada tahun 2015, lanjut Dimas, ia punya gagasan untuk memulai bisnis menjajakan aneka ragam cita rasa kopi Nusantara. Memilih nama Kocak (Kopi Becak) sebagai brand adalah langkah pertamanya untuk terjun secara langsung dalam dunia kopi. “Namun usaha Kopi Becak ini, baru bisa terlaksana di tahun 2017,” katanya.

Mengapa Kopi Becak? Dimas beralasan, jenis alat transportasi ini mampu membentuk ciri Indonesia. “Dan saya memilih becak Solo sebagai medianya karena pertimbangan luas jika dibandingkan dengan becak lainya. Selain itu juga sebagai penanda bahwa Kopi Becak berasal dari kota ini,” ungkap Dimas saat dihubungi via whatsapp.

Masih diceritakan penggemar Cappuccino ini, bahwa saat ini bisnis kopi Nusantara mengalami perkembangan pesat. Hal tersebut menurutnya, selaras dengan para penikmat kopi bertambah luas. “Artinya semua kalangan kini telah menjadikan minuman ini sebagai life style, jika demikian maka artinya ada peningkatan daya beli yang berpengaruh pada gaya hidup,” ungkapnya.

Di akhir perbincangan, ia menambahkan, langkah kecil dengan kehadiran Kopi Becak, adalah dengan dukungan dari para konsumen yang bisa memperkenalkan usaha ini hingga ke luar negeri.

“Saya ingin membawa Kopi Becak ke kota-kota besar mancanegara. Mengenalkan kopi, budaya, dan transportasi tradisional, serta pariwisata Indonesia ke luar negeri lewat brand Kopi Becak,” tutupnya. (POUNDRA/AZIZ)