Investasi Manufaktur Munculkan Efek Berantai Positif

pertumbuhan investasi
Menperin Airlangga Hartarto di salah satu acara, Airlangga menegaskan, sektor industri memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan investasi di Indonesia. FOTO: KEMENPERIN.GO.ID

JAKARTA-SUREPLUS: Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menegaskan, sektor industri memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan nilai investasi di Indonesia. Maka pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi para investor, sehingga kinerja investasi akan semakin meningkat.

“Tentunya investasi existing dapat lebih berdaya saing. Apalagi melalui penanaman modal, sektor manufaktur membawa efek berantai yang positif pada perekonomian nasional,” kata Menperin Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa (13/03/2018) seperti dikutip dari Siaran Pers Kemenperin.

Disebutkan oleh Airlangga, efek berantai dari investasi manufaktur tersebut, di antaranya berupa penyerapan tenaga kerja, peningkatan nilai tambah bahan baku dalam negeri, dan penerimaan negara dari ekspor.

Catatan Kemenperin, pada tahun 2017 total investasi PMA dan PMDN di sektor industri mencapai Rp 283,71 triliun atau berkontribusi lebih dari 40 persen dari total investasi di Indonesia yang mencapai Rp 692,8 triliun.

Sedangkan nilai investasi terbesar yang disumbangkan oleh sektor manufaktur, antara lain dari industri makanan sebesar Rp 64,74 triliun, industri logam, mesin dan elektronik Rp 64,10 triliun, serta industri kimia dan farmasi sebesar Rp 48,03 triliun.

Di sisi lain, Kemenperin memproyeksikan, investasi sektor industri pada tahun 2018 mencapai Rp 352,16 triliun dan menjadi Rp 387,57 triliun pada 2019. “Industri menjadi penggerak utama dari target pertumbuhan ekonomi nasional,” papar Menperin Airlangga.

Sedangkan dampak positif terhadap pertumbuhan industri, total tenaga kerja yang terserap pada tahun 2017 sebanyak 17,01 juta orang. Anghka ini naik dibanding tahun 2016 yang mencapai 15,54 juta orang. Capaian ini mendorong pengurangan tingkat pengangguran dan kemiskinan di Indonesia yang cukup signifikan.

Selain itu, pada tahun 2017, nilai ekspor produk industri sebesar 109,76 miliar dolar AS, naik 13,14 persen dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 125,02 miliar dolar AS. Capaian ekspor produk industri di tahun 2017 tersebut memberikan kontribusi hingga 74,10 persen terhadap total ekspor Indonesia.

Menperin juga mengungkapkan, pertumbuhan investasi sektor manufaktur Indonesia tahun 2016 (y-o-y) tercatat mengalami pertumbuhan paling tinggi di tingkat ASEAN, sebesar 41,8 persen. Disusul Malaysia 25,0 persen dan Vietnam 3,1 persen. Sebaliknya, penurunan investasi terjadi di Singapura dan Thailand, masing-masing turun sebesar 29,6 persen dan 27,5 persen.

Lebih lanjut dikatakan Airlangga, Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi yang menarik di dunia. Hal tersebut didukung berdasarkan beberapa hasil riset. Misalnya, survei US News, Indonesia dinilai sebagai negara tujuan investasi terbaik kedua di dunia. Mengalahkan negara Asia Tenggara lain seperti Malaysia dan Singapura.

Selanjutnya, laporan Asia Business Outlook Survey 2018 oleh the Economist, Indonesia merupakan negara tujuan utama ke-3 di Asia yang menarik bagi investor. Hal senada diungkapkan World Investment Report 2017 oleh UNCTAD, yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-4 di dunia terkait MNEs’ top prospective host economies periode 2017–2019. (PRS/AZIZ)